Banjir Bandang Bima
Upadate Dampak Banjir Wera-Ambalawi, 471 Jiwa Terdampak hingga 9 Jembatan Rusak Berat
Pusdalops BPBD Kabupaten Bima mencatat, bencana banjir bandang berdampak pada 471 jiwa atau 249 kepala keluarga (KK)
Penulis: Andi Hujaidin | Editor: Idham Khalid
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Andi Hujaidin
TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA BIMA - Bencana banjir bandang yang melanda Kecamatan Wera dan Ambalawi, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada awal Februari 2025 telah meninggalkan jejak kerusakan yang sangat besar.
Tidak hanya merusak sarana dan prasarana, banjir ini juga menelan korban jiwa dan memaksa ratusan warga mengungsi. Hingga hari ke-6 pasca-bencana, upaya penanganan dan pemulihan masih terus dilakukan oleh pemerintah dan berbagai pihak terkait.
Banjir bandang yang terjadi pada 2 Februari 2025 ini disebabkan oleh curah hujan tinggi yang memicu luapan sungai dan tanah longsor di beberapa wilayah.
Pusat Pengendalian dan Operasional (Pusdalops) BPBD Kabupaten Bima mencatat, bencana ini berdampak pada 471 jiwa atau 249 kepala keluarga (KK). Di Kecamatan Ambalawi, 253 jiwa dari 170 KK terdampak, sementara di Kecamatan Wera, 218 jiwa dari 79 KK juga merasakan dampaknya.
Tragisnya, bencana ini merenggut nyawa 3 orang, dengan 5 orang masih dinyatakan hilang. Tim SAR gabungan, termasuk Basarnas, TNI, Polri, dan relawan, terus melakukan pencarian dengan bantuan anjing pelacak (K9) untuk menemukan korban yang hilang.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir bandang ini sangat signifikan. Sebanyak 11 jembatan mengalami kerusakan, dengan 9 jembatan rusak berat dan 2 rusak ringan. Selain itu, 7 bendungan rusak berat, 1 ruas jalan lintas Wera-Bima terkikis, dan 400 meter saluran irigasi jebol.
Baca juga: Jasad Korban Banjir Bima Juliani Tiba di Rumah Duka
Fasilitas sosial dan umum juga tidak luput dari dampak bencana. Gedung serbaguna, talud SMP Muhammadiyah, dan talud permukiman warga mengalami kerusakan. Lahan pertanian seluas 65 hektar juga rusak, dengan rincian 25 hektar di Kecamatan Ambalawi dan 40 hektar di Kecamatan Wera.
Pemerintah dan berbagai pihak telah bergerak cepat untuk menangani dampak bencana ini. Bupati Bima, Indah Dhamayanti Putri, menyatakan bahwa upaya perbaikan infrastruktur, terutama akses jalan, telah dilakukan. Salah satunya adalah penimbunan ruas jalan Nanga Wera agar bantuan dan aktivitas warga dapat berjalan lancar.
Bantuan logistik juga terus mengalir dari berbagai instansi, BUMN, dan masyarakat. Bantuan berupa sembako, makanan siap saji, pakaian, dan kebutuhan lainnya telah disalurkan untuk meringankan beban warga terdampak. Bupati Bima mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah diberikan.
Tim SAR gabungan, termasuk Basarnas, Tagana, TNI, Polri, dan relawan, terus melakukan pencarian korban yang hilang. Anjing pelacak dari Polda NTB juga dikerahkan untuk mempercepat proses pencarian.
Meskipun upaya penanganan telah dilakukan, tantangan pemulihan pasca-bencana masih besar. Akses transportasi yang terganggu membuat distribusi bantuan menjadi lebih sulit. Warga terpaksa mengambil jalur memutar melalui Sape, yang memakan waktu hingga 2,5 jam.
Selain itu, kerugian material akibat bencana ini diperkirakan mencapai Rp81 miliar. Kerugian ini mencakup kerusakan rumah, jembatan, jalan, dan lahan pertanian. Pemerintah berencana untuk merelokasi warga di daerah rawan bencana, seperti Desa Nanga Wera, ke lokasi yang lebih aman. Namun, tantangan terbesar adalah memastikan warga mau meninggalkan kampung halaman mereka.
Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri sebelumnya menyampaikan terima kasih atas bantuan baik berupa sembako, makanan siap saji, pakaian dari berbagai pihak.
"Kita berharap semua bantuan yang disalurkan tersebut dapat meringankan beban keluarga yang terdampak bencana," tandasnya.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.