Berita NTB
Sekda NTB Dorong Pembentukan OPD Khusus Kebudayaan untuk Kembangkan Ekonomi Kreatif
Sekda NTB Lalu Gita Ariadi usulkan pembentukan organisisi oemerintah daerah (OPD) kebudayaan untuk optimalkan potensi daerah
Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Idham Khalid
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Sekertaris Daerah (Sekda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) H Lalu Gita Ariadi, mendorong pemerintah agar membentuk organisasi perangkat daerah (OPD) yang khusus membidangi kebudayaan di NTB.
"Kebudayaan ini butuh penggarapan sendiri, kalau dia tidak ada penggarapan khusus akan menjadi pelengkap. Maka outputnya kita mengusulkan Kementerian Kebudayaan," kata Gita, Selasa (20/8/2024).
Berkaca dari NTB, daerah yang masuk dalam zona waktu Indonesia tengah itu memiliki berbagai macam kebudayaan, adat istiadat. Terdapat tiga suku besar yang menempati wilayah NTB diantaranya Sasak, Samawa dan Mbjo atau dikenal Sasambo.
Menurut Gita, suku Sasak yang mediami Pulau Lombok, didalamnya memiliki berbagai macam tradisi yang rutin dilakukan pada waktu-waktu tertentu.
Potensi ini jika dikemas dengan kreativitas yang baik, akan memberikan dampak pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat setempat.
Ada berbagai seni kebudayaan yang ada di Lombok diantaranya, Peresean dan Gedang Beleq, dua tradisi ini menjadi yang paling sering di pertontonkan kepada wisatawan.
Bahkan di beberapa tempat di Lombok, Peresean rutin digelar selain untuk melestarikan tradisi, juga untuk menggaet wisatawan.
Termasuk Gendang Beleq yang merupakan alat musik khas suku Sasak, perlu pengemasan yang lebih kreatif lagi agar bisa menjadi magnet wisatawan berkunjung ke NTB.
"Kebudayaan kita, kita jadikan atraksi budaya bagaimana budaya kesenian itu direkonstruksi sedemikian rupa untuk menarik perhatian," kata Gita.
Baca juga: Dinas Dikbud Akui Lombok Timur Minim Literasi Kebudayaan
Mantan Pj Gubernur NTB itu mencontohkan bagaimana Yogyakarta dan Bali yang memiliki Dinas Kebudayaan tersendiri, sehingga pemerintah fokus dalam mengelola dan mengembangkan budaya sebagai magnet mendatangkan wisatawan.
Apalagi sekarang sudah ada payung hukum dalam pengembangan budaya yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kebudayaan.
"Kedepan bukan hanya pelestarian, tetapi pengembangan ekonomi," jelasnya.
Tidak hanya di Sasak, dua suku yang menempati Pulau Sumbawa juga memiliki ragam budaya seperti Suku Mbojo dengan pacoa jara yang rutin digelar, kemudian balapan kerbau di Sumbawa. Semua event tersebut kata Gita jika dikemas akan menjadi magnet wisatawan untuk rutin berkunjung ke NTB.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.