Berita Lombok

Warga Lombok Timur Khawatir Mata Air Lemor Mulai Menyusut

Warga khawatir lama kelamaan debit air di mata air Lemor, Lombok Timur semakin kecil dan air sungai tidak ada lagi untuk keperluan petani.

Penulis: Rozi Anwar | Editor: Sirtupillaili
Dok.Istimewa
Mata air Lemor yang berada di Dusun Tibujukung, Desa Suela, Kecamatan Suela, Lombok Timur, pada Sabtu (8/6/2024) 

Laporan Wartawan TribunLombok.com Rozi Anwar

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Mata Air Lemor merupakan salah satu mata air yang berada di Desa Suela, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Mata air Lemor tersebut mengairi pertanian dan kebutuhan sehari-hari warga, seperti air minum, mencuci, hingga irigasi.

Hutan Kebun Raya Lombok terdiri dari areal hutan untuk konservasi seluas 82,9 hektare, dan areal terbuka seluas 48 hektare.

Mata air dari hutan lindung Lemor dipakai beberapa desa, seperti Desa Ketangga, Desa Suntalangu, Desa Suela, Desa Selaparang sampai Kecamatan Peringgabaya.

Mata air Lemor dikelola juga Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lombok Timur dan Perusahaan Air Minum Desa (PAM Des).

Pelayanan PDAM meliputi Desa Ketangga, Desa Selaparang, Desa Suntalangu, dan beberapa desa di Kecamatan Peringgabaya. Sedangkan PAM Des hanya di Desa Suela.

Namun ketika kemarau datang debit air mulai berkurang, air pun tidak bisa memenuhi kebutuhan warga.

Menurut Tutik, warga Desa Ketangga mengatakan, memang mata air Lemor tetap ada tapi tidak bisa memenuhi kebutuhan warga.

"Saat kemarau datang kami mulai susah air, karena tidak bisa memenuhi kebutuhan mencuci ataupun keperluan rumah tangga, air sungai kita andalkan tidak ada, ya akhirnya kita naik ke atas untuk mencuci baju dan mandi," tutur Tutik, saat ditemui di Rumahnya, Sabtu (8/6/2024).

Bukan hanya ibu rumah tangga namun petani juga mengeluhkan kecilnya debit mata air Lemor saat kemarau.

"Kalau musim kemarau ya kesulitan kita mengairi tanaman di sawah, contohnya tanaman tembakau yang masih kecil saat membutuhkan air, kita rela bergadang biar dapat air, karena kita bagi-bagi jadwalnya," ujar Sahril.

Ia khawatir lama kelamaan debit air di mata air Lemor semakin kecil dan air sungai tidak ada lagi untuk keperluan petani.

"Kalau dulu air sungai maupun mata air Lemor ini sangat besar, tapi sekarang sudah mulai kecil (berkurang), mungkin akibat hutannya sudah mulai gundul," cetusnya.

Sahril berharap kepada warga dan pemerintah untuk tetap menjaga hutan agar air tetap ada dan tidak punah.

"Jangan sampai mata air ini kecil dan tidak ada lagi mengalir," pungkas.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved