Opini
Sengkuni dan Drama Keluarga Jokowi
Bagi siapapun yang belajar sejarah Indonesia, khususnya masa Orde Baru, tentu tak ingin hukum diobok-obok demi kekuasaan dan kepentingan pribadi.
Wabilkhusus lagi kaitannya dengan tokoh Sengkuni yang fenomenal tersebut.
Ramai diyakini banyak orang, Jokowi hendak berkuasa lagi. Namun rupanya konstitusi tidak menghendaki itu terjadi.
Kekisruhan soal apakah benar Jokowi melobi partai untuk bisa melenggang melanjutkan kekuasaan untuk ketiga kalinya lalu mengemuka.
Di luar benar apa tidak, masih dapat diterima akal kiranya jika seseorang masih ingin berkuasa. Asalkan melalui proses yang benar sejalan dengan prinsip demokrasi.
Hanya saja, masalahnya kemudian melahirkan spekulasi-spekulasi negatif yang mengarah ke Jokowi.
Ketua MK di tengah-tengah kisruh politik tiba-tiba mengesahkan perkara terkait usia capres dan cawapres.
Orang-orang segera menarik asumsi saat menghubungkan pribadi Ketua MK, Anwar Usman, yang notabene adalah adik iparnya Jokowi.
Lalu perkara yang diputuskan juga menyangkut Gibran yang hendak ikut kontestasi menjadi cawapres Prabowo, sayangnya terkendala umur.
Klop sudah: Jokowi tak bisa berkuasa lagi; Gibran didorong melanjutkan kekuasaan Jokowi namun terkendala aturan usia yang belum cukup; MK mengubah aturan usia capres dan cawapres; Gibran akhirnya dapat melenggang menjadi cawapres. Mulus namun ‘cerdas’, atau ‘licik’ seperti Sengkuni?
Ya, seperti Sengkuni yang berusaha tanpa henti menghasut para ponakannya yakni 100 Kurawa untuk memerangi para Pandawa demi kekuasaan.
Hanya memang, kita tak mudah mencari siapa Sengkuni dalam peristiwa drama keluarga Jokowi. Yang bisa kita deteksi adalah sifat jahat dan licik Sengkuni di dalam sosok-sosok yang mengatur sehingga strategi yang merusak citra demokrasi dan hukum kita itu terjadi.
Bagi siapapun yang belajar sejarah Indonesia, khususnya masa Orde Baru, tentu tak ingin melihat hukum diobok-obok demi kekuasaan dan kepentingan sendiri.
Aturan-aturan diutak-atik demi langgengnya kekuasaan dinasti mereka sendiri. Rakyat dikebiri, dicuci otaknya selama 32 tahun.
Begitu pula Sengkuni mencuci otak para ponakannya dengan berusaha agar mereka terus-menerus memusuhi para Pandawa seakan-akan mereka sudah dari zahirnya adalah musuh.
Semua dilakukan Sengkuni agar kekuasaan tetap berada di pihaknya, atau pihak keluarganya sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Dedy-Ahmad-Hermansyah.jpg)