Selasa, 2 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Catatan Sepak Bola

Merindukan Jogo Bonito ala Tite

Popularitas sedang menyelimuti Richarlison de Andrade berkat keindahan golnya ke gawang Serbia pada laga perdana Grup G Piala Dunia 2022

Tayang:
Penulis: Dion DB Putra | Editor: Wahyu Widiyantoro
AFP/GIUSEPPE CACACE
Penyerang Brasil Richarlison mencetak gol kedua yang indahselama pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia Qatar 2022 antara Brasil dan Serbia di Stadion Lusail, utara Doha pada 24 November 2022. Brasil menang 2-0. 

Pele menggunakan frasa jogo bonito atau permainan indah dalam bahasa Portugis, untuk merujuk pada olahraga sepak bola.

Bleacher Report menyebut, Pele tidak hanya pencetus tetapi mewujudkan frasa jogo bonito lewat aksinya yang memukau saat bermain membela timnas Brasil.

Ketika memperkuat timnas Brasil, Pele sukses mengantarkan timnya meraih gelar juara Piala Dunia sebanyak tiga kali yakni pada 1958, 1962, dan 1970.

Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) sudah memberikan gelar pemain terbaik abad ke-20 kepada Pele, bersama Maradona, pada Desember 2000.

Kembali ke Qatar 2022, gol Richarlison ke gawang Serbia menghidupkan kerinduan akan jogo bonito yang selama lebih dari dua dekade terakhir cenderung meredup dari goyang Samba Brasil.

Baca juga: Pelatih Brasil Bawa Dani Alves dan 9 Pemain Bertipe Penyerang ke Qatar 2022

Ekspresi pemain depan Brasil Richarlison  saat merayakan gol kedua timnya selama pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia 2022  antara Brasil dan Serbia di Stadion Lusail di Lusail, utara Doha pada 24 November 2022.
Ekspresi pemain depan Brasil Richarlison saat merayakan gol kedua timnya selama pertandingan sepak bola Grup G Piala Dunia 2022 antara Brasil dan Serbia di Stadion Lusail di Lusail, utara Doha pada 24 November 2022. (AFP/NELSON ALMEIDA)

Pengamat bola hampir sepakat bahwa Brasil meninggalkan filosofi permainan indah yang menjadi ciri khasnya. Belakangan ini Brasil memilih pragmatis, lebih mengutamakan hasil akhir ketimbang proses yang elok menawan.

Mengutip Goal, anggapan tersebut muncul melihat penampilan timnas Brasil setelah era keemasan Pele, yakni pada Piala Dunia 1994 dan 2002.

Trofi juara Brasil di USA 1994 dipandang berasal dari dominasi permainan lini tengah yang sangat apik dikoordinir Dunga, sang kapten timnas Brasil saat itu.

Ketika Brasil berjaya di Piala Dunia 2002, penampilan mereka tak beda jauh dari tim asal Eropa.

Maklum kala itu Brasil bermodal trio bintang yang berkiprah di kompetisi negara Eropa yaitu Ronaldinho, Ronaldo Nazario, dan Rivaldo.

Bahkan saat Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, bentuk permainan elok ala jogo bonito tidak lagi terlihat di negeri asalnya.

Brasil malah dipermalukan timnas Jerman, yang akhirnya meraih gelar juara, dengan skor 1-7 di semifinal. Sudah bermain pragmatis, eh kalah telak lagi di kandang sendiri. Memalukan!

Parreira, Scolari hingga Tite

Jogo bonito Brasil memang mulai memudar sejak tim nasional negara itu diasuh Carlos Alberto Parreira awal 1990-an.

Di Piala Dunia 1994, tim Samba asuhan Carlos Alberto Parreira menjadi kampiun turnamen empat tahunan tersebut setelah mengandaskan Italia di babak final.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved