Catatan Sepak Bola
Merindukan Jogo Bonito ala Tite
Popularitas sedang menyelimuti Richarlison de Andrade berkat keindahan golnya ke gawang Serbia pada laga perdana Grup G Piala Dunia 2022
Penulis: Dion DB Putra | Editor: Wahyu Widiyantoro
Sebelum itu, Parreira hanya melatih timnas Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA). Kuwait pernah ia asuh di Piala Dunia 1982 dan kandas di fase grup.
Sedangkan di Piala Dunia 1990, Parreira membawa UEA gugur di fase grup setelah menelan tiga kekalahan beruntun.
Baca juga: Jadwal Piala Dunia Hari Ini: Korea, Brasil dan Portugal Incar Tiket 16 Besar
Tatkala mengasuh timnas Brasil 1994, Parreira mengutamakan hasil akhir. "Keindahan bermain bola tidak menyelamatkan kehormatan kita," katanya saat itu.
Di Piala Dunia 1998, pelatih Mario Zagallo pun tidak begitu mementingkan keindahan dalam permainan sepak bola Brasil.
Zagallo sukses mengantar Ronaldo dkk hingga ke babak final. Namun, Brasil gagal mempertahankan gelar karena kalah melawan tuan rumah Prancis di final.
Brasil takluk 0-3 dari Prancis setelah gol-gol Les Bleus –julukan Prancis– dicetak Zinedine Zidane pada menit 27, (45+1) dan Emmanuel Petit (90+3).
Luiz Felipe Scolari yang menjadi pelatih Brasil di Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan, mirip pula karakternya.
Luiz Felipe Scolari yang terkenal keras kepala tidak sudi pemain Brasil mementingkan jogo bonito. "Orang ingat kalau kita menang dan jadi juara," ujarnya.
Scolari menerapkan gaya sepak bola menyerang dan timnya mengobarkan semangat juang tiada duanya.
Terbukti Felipe Scolari sukses memberikan Brasil trofi kelima pada tahun 2002. Sejak itu Brasil belum mencicipi lagi pesta juara Piala Dunia.
Pelatih pragmatis Brasil di era 2000-an adalah Dunga. Selain menjadi satu di antara pemain paling berprestasi di Brasil, Dunga merupakan manajer terbaik. Dunga memiliki karier cemerlang bersama tim nasional Brasil.
Baca juga: Neymar Kepada Messi: Brasil Akan Kalahkan Argentina di Final Piala Dunia 2022
Dia bermain selama hampir 11 tahun untuk Selecao dan memenangkan 4 trofi utama termasuk Piala Dunia FIFA 1994 dan Piala Konfederasi.
Karier manajerial Dunga dimulai tahun 2006 saat ia memimpin tim nasional Brasil.
Dunga memenangkan Copa America dan Piala Konfederasi sebagai manajer selama tugas pertamanya bersama tim Samba.
Dia diangkat kembali sebagai manajer tim utama setelah kekalahan memalukan Brasil di Piala Dunia 2014 melawan Jerman.
Dunga mengasuh skuat Samba selama 2 tahun guna mengembalikan moral tim yang ambruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Richarlison-cetak-gol-indah.jpg)