Banjir Usai MotoGP Mandalika, Pemda Lombok Tengah Segera Normalisasi DAS Tabelo

Wakil Bupati Lombok Tengah Nursiah menggelar rapat koordinasi untuk penanganan banjir akibat penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tabelo Desa Kuta.

Penulis: Sinto | Editor: Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM/SINTO
Proyek the Mandalika. ITDC terus berikhtiar merealisasikan pembangunan Temporary Evacuation Shelter (TES) di kawasan Mandalika. 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Sinto

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Wakil Bupati Lombok Tengah HM Nursiah menggelar rapat koordinasi untuk penanganan banjir akibat penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) Tabelo Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Penyempitan dan sedimentasi DAS Tabelo ini menyebabkan beberapa wilayah mengalami banjir.

Sehingga sangat mengganggu aktifitas pariwisata di Kecamatan Pujut.

"Insya Allah kita mengajak para ahli untuk mencari solusi bersama agar banjir ini tidak terjadi lagi. Sehingga aktivitas warga bisa normal meskipun hujan deras terjadi," jelas Nursiah.

Sebelumnya, MotoGP Mandalika, banjir kembali menerjang Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Selasa (22/3/2022).

Baca juga: Jadwal MotoGP Inggris Hari Ini, Persaingan di Sesi Kualifikasi Bakal Sengit

Banjir yang membawa material lumpur itu diperkirakan mencapai ketinggian lebih dari 1 meter.

Banjir tersebut merendam lima dusun yang ada di Desa Kuta, yakni Dusun Baturiti, Mong, Emate, Merendeng dan Mengalung.

Kepolisian Sektor (Polsek) Mandalika mengungkapkan banjir tersebut disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi yang melanda wilayah tersebut.

Selain itu, kondisi aliran sungai yang menyempit juga menjadi penyebab terjadinya banjir.

"Ketika itensitas curah hujan tinggi beberapa kali mengalami banjir yang diperkirakan karena ruas sungai yang terlalu kecil," kata Kapolsek Kawasan Mandalika, Iptu I Made Dimas, dalam keterangan tertulis, Rabu (23/3/2022).

Ruas sungai yang terlalu kecil tersebut tidak mampu menampung debit air yang tinggi sehingga meluap ke permukiman warga

Dimas menjelaskan bahwa di wilayah Kuta, pembangunan sangat masif.

Diduga, pembangunan itu tanpa mempertimbangkan wilayah sepadan sungai.

"Pembangunan yang cukup pesat dan tidak didukung dengan sistem saluran air yang memadai diperkirakan juga bisa menjadi penyebab sering terjadinya banjir di seputaran Desa Kuta," ungkap Dimas.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved