Lebaran 2022

Asal Usul Lebaran Topat di Lombok, Tradisi Setelah Puasa Syawal

Lebaran Topat berlangsung seminggu setelah hari raya Idulfitri dan telah menyelesaikan puasa syawal selama enam hari.

DOK KOMPAS
Seusai prosesi acara di Makam Batu Layar, Lombok Barat, biasanya para peziarah berwisata sekaligus membuka bekal penganan berupa ketupat, lauk-pauk, dan sayur-mayur. Ketupat sebanyak 1.000 buah dan sayur-mayur yang diusung dalam acara Lebaran Topat itu juga turut disantap. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Setyowati Indah Sugianto

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Lebaran Topat merupakan sebuah tradisi yang dilaksanakan masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Lebaran Topat berlangsung seminggu setelah hari raya Idulfitri dan telah menyelesaikan puasa syawal selama enam hari.

Baca juga: Berkah Lebaran, Omzet Penyedia Kapal Penyebrangan ke Pulau Maringkik Tembus 1 Juta Per Hari

Baca juga: Polsek Poto Tano KSB Perkiraan Arus Balik Mudik Lebaran Meningkat di 6 dan 7 Mei

Dilansir beberapa sumber, tradisi Lebaran Topat atau Lebaran Ketupat ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Masyarakat Indonesia masih mempertahankan tradisi leluhurnya itu sampai sekarang.

Pada pagi hari sejak pukul 07.00 WITA lazimnya masyarakat berziarah ke makam. Selain memanjatkan doa merekaberebutan mencuci muka dan kepala dengan air di atas makam.

Mereka juga berwisata di pantai bersama keluarga dan kerabat. Melengkapi perayaan syukur ini mereka membawa bekal yang berupa ketupat, pelalah ayam, daging, opor telur, pakis, paku, urap-urap, dan plecing kangkung yang kemudian dimakan beramai-ramai.

Saat Lebaran Topat ada ketupat berbentuk segi empat sebagai menu makan utama.

Selain mengucapkan rasa syukur, Lebaran Topat pun momen refleksi menjauhkan diri dari nafsu kebendaan dan membersihkan batin dari sikap dengki dan iri hati.

Ritual beseraup atau membasuh muka dengan air saat Lebaran Topat memberi makna bahwa tindakan tersebut merupakan cara untuk membersihkan kotoran yang melekat di wajah.

Jika wajah dan hatinya bersih, maka orang itu tidak akan sakit baik secara fisik maupun mental.

Lebaran Topat dapat menjadi otokritik dan introspeksi bagi manusia untuk mengenal kembali jati dirinya setelah menempuh perjalanan hidup selama satu tahun yang banyak diwarnai dosa individual dan dosa sosial.

Pepatah Sasak mengatakan “dendek ipuh pantok gong” (tak usah segan memukul atau membunyikan gong).

Dari pepatah tersebut mengingatkan manusia agar mengoreksi diri, di antaranya terbuka terhadap saran dan kritik orang lain.

Lebaran Topat juga menunjukkan adanya nilai kebersamaan. (*)

(dari berbagai sumber termasuk Kompas.Com)

Berita terkait klik di sini

Sumber: Tribun Lombok
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved