Bulan Ramadhan

Penetapan Awal Puasa Berbeda tapi Lebaran Bisa Hari yang Sama, Mengapa Demikian?

Imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.

Editor: Dion DB Putra
KOMPAS.COM/GARRY ANDREW LOTULUNG
Umat Muslim melaksanakan shalat Idulfitri di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/5/2021). 

"Saat penentuan awal Ramadhan posisi hilal masih di bawah kriteria MABIMS sehingga pemerintah memutuskan puasa dihari berikutnya," jelasnya.

Adapun pada 1 Mei 2022 nanti, Kamaruddin mengatakan bahwa secara hisab, posisi hilal awal Syawal 1443 Hijriah di Indonesia telah memasuki kriteria baru MABIMS.

Kamaruddin menjelaskan mengenai jumlah hari dalam kalender Hijriah yang bisa berjumlah 29 atau 30 hari per bulan.

"Bulan Qamariyah kan bisa 30 bisa 29 hari," jelas Kamaruddin. Sebagai contoh, Syakban yang datang sebelum bulan Ramadhan bisa digenapkan menjadi 30 hari apabila kondisi hilal penentu awal Ramadhan tidak terlihat secara kasat mata.

Dengan begitu, pemerintah menetapkan awal puasa sehari lebih lambat dari Muhammadiyah. Sehingga pemerintah melaksanakan puasa selama 29 hari sementara Muhammadiyah menunaikan ibadah puasa selama 30 hari.

Dikutip dari Kompas.com (26/4/2022), Guru Besar Peradaban Islam UIN Raden Mas Said Surakarta Syamsul Bakri mengatakan bahwa perbedaan jumlah hari dalam 1 Ramadhan ini wajar terjadi. Asalkan tidak kurang dari 29 hari atau lebih dari 30 hari.

"Jumlah hari di bulan Hijriah sudah tetap 29 atau 30. Hanya berbeda soal menentukan apakah malam ini sudah masuk bulan baru atau belum," terangnya.

Penetapan masih menunggu hasil sidang isbat Kendati besar kemungkinan lebaran 2022 akan terjadi secara bersamaan, Kamaruddin menegaskan penetapan hari raya Lebaran masih menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pada Minggu (1/5/2022).

"Apakah lebarannya serentak kita menunggu hasil sidang isbat, walau potensi serentak besar," jelasnya. Pada sidang isbat nanti, pemerintah akan menggunakan metode hisab dan rukyat.

Posisi hilal 1 Syawal akan dipresentasikan oleh Tim Unifikasi Kalender Hijriah yang selanjutnya menunggu laporan rukyat dari seluruh Indonesia. "Rukyat digunakan sebagai konfirmasi terhadap hisab dan kriteria yang digunakan," tutur Kamaruddin.

Hisab dan rukyat tersebut akan dimusyawarahkan dalam sidang isbat untuk memutuskan penetapan 1 Syawal 1443 Hijriah atau hari raya Idul Fitri 2022.

Simak berita terkait di sini

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Mengapa Penetapan Puasa Berbeda tetapi Lebaran Bisa Sama? Ini Penjelasan Kemenag

 

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved