Pertamina Jatimbalinus

Harga Pertamax Naik Karena Termasuk Jenis Non Subsidi, Ini Penjelasan Pertamina

Seperti diketahui, harga Pertamax mengalami perubahan per tanggal 1 April 2022 dari Rp 9.000 per liter menjadi Rp 12.500 per liter.

Editor: Dion DB Putra
DOK PERTAMINA
Suasana di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). 

TRIBUNLOMBOK.COM – BBM Pertamax yang harganya naik karena dipicu melambungnya harga minyak dunia merupakan jenis BBM non subsidi.

Hal ini sesuai penjelasan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 191 tahun 2014 Tentang Penyaluran, Pendistribusian dan Harga Eceran BBM.

Seperti diketahui, harga Pertamax mengalami perubahan per tanggal 1 April 2022 dari Rp 9.000 per liter menjadi Rp 12.500 per liter.

Baca juga: Tak Ada Panic Buying, Stok Pertamax dan Pertalite di Bima Aman Hingga Lebaran

Baca juga: Harga Pertamax Naik, Sejumlah SPBU di Mataram & Lombok Barat Sepi Antrean Pengendara Motor

Dalam Perpres tersebut dijelaskan, terdapat tiga jenis BBM disesuaikan dengan peruntukkannya.

Ketiganya yakni Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) atau BBM bersubsidi seperti Biosolar, Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan yaitu Pertalite dan Jenis Bahan Bakar Umum atau Non Subsidi seperti Pertamax, Dexlite dan Pertamina Dex.

Kenaikan harga Pertamax dipicu krisis geopolitik yang menyebabkan harga minyak dunia menjadi tinggi di atas US$ 100 per barel.

Untuk tetap menjaga penyediaan dan penyaluran BBM, PT Pertamina melakukan efisiensi ketat di seluruh lini operasi. Akibatnya, penyesuaian harga BBM tidak dapat dihindari. 

“Pertamina selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat. Harga Pertamax ini tetap lebih kompetitif di pasar atau dibandingkan harga BBM sejenis dari operator SPBU lainnya. Ini pun baru dilakukan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, sejak tahun 2019," ujar Area Manager Communication & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Deden Mochamad Idhani.

Lebih lanjut Deden mengungkapkan, “penyesuaian harga hanya berlaku untuk BBM Non Subsidi yang dikonsumsi masyarakat sebesar 17%, dimana 14% merupakan jumlah konsumsi Pertamax dan 3% jumlah konsumsi Pertamax Turbo, Dexlite dan Pertamina Dex. Sedangkan BBM Subsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebesar 83%, tidak mengalami perubahan harga atau ditetapkan stabil di harga Rp7.650 per liter.”

Penyesuaian harga ini, lanjut Deden, sebenarnya masih jauh di bawah nilai keekonomiannya.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved