NTB
NTB Disebut 'Supermarket' Bencana, Ini Strategi Pemprov NTB Kurangi Risiko Bencana
Laporan wartawan Tribunlombok.com, Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Hampir semua jenis bencana alam melanda wilayah Provinsi NTB dalam tiga tahun terakhir.
Mulai dari bencana kekeringan, banjir, kebakaran yang terjadi hampir setiap tahun.
Peningkatan aktivitas gunung berapi Rinjani, hingga gempa dahsyat tahun 2018 yang meluluhlantakkan seantero Lombok.
Termasuk saat ini, di kala pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) melanda dunia, wilayah NTB juga kena dampaknya.
Baca juga: Tenaga dan Anggaran Tersedot untuk Tangani Covid-19, Sekda NTB: Sudah Lelah Kita
Baca juga: 740.292 Warga NTB Terdampak Bencana Kekeringan, Tersebar di 367 Desa
“Takdir menempatkan Indonesia termasuk kita NTB berada pada tiga lempeng tektonik sehingga pantas dijuluki supermarket bencana," kata Kepala Dinas Sosial Provinsi NTB H Ahsanul Khalik, Sabtu (17/10/2020).
2 Program
Hampir semua jenis bencana, kata Khalik, setiap saat mengancam warga NTB.
Bencana memang tidak bisa dihindari, tapi dampak bencana bisa dikurangi.
Satu dari sekian strategi untuk mengurangi dampak bencana itu, Dinas Sosial NTB tahun ini mulai menjalankan dua program.
Program itu adalah Tagana Masuk Sekolah (TMS) dan Mobil Edukasi Bencana (MEB).
Dua program ini bertujuan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengurangan risiko bencana.
"Semua pihak termasuk santri, pelajar, mahasiswa harus dikuatkan sebagai bagian dalam pengurangam resiko bencana," katanya.
TMS, jelas Khalik, bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi berbagai macam bencana.
"Gerakan ini kian masif di NTB mengingat topografi daerah ini memiliki potensi besar terjadinya gempa dan tsunami," jelasnya.
Selama Oktober, gerakan TMS akan menyasar 35 sekolah dan pondok pesantren di 10 kabupaten/kota se-NTB.
Demikian pula dengan MEB, mobil ini terus berpatroli hingga ke pelosok daerah.
"MEB mengingatkan warga agar tetap waspada terhadap potensi bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi," kata mantan kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB ini.
Baca juga: Tiga Kabupaten Kekeringan Parah, NTB Naik Status Jadi Tanggap Darurat Kekeringan
Baca juga: Kasus Kematian Pasien Covid-19 di NTB Nomor Dua di Indonesia
Mobil dikemas menarik seperti kedai kopi yang menyiapkan produk-produk lokal.
“Mobil ini berfungsi sebagai kafe berjalan yang bisa membuka lapak di keramaian lalu pengunjung menikmati kopi sambil diskusi kebencanaan,” jelasnya.
Gerakan sederhana kesiapsiagaan ini diharapkan menjadi penyemangat agar warga NTB lebih siaga.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/seorang-anggota-tagana-ntb-memberikan-pembekalan-bagi-para-siswa.jpg)