Bukit Merese: Jatuh Cinta Berkali-kali pada Langit dan Laut Mandalika
Bukit Merese jadi destinasi favorit di Mandalika, menawarkan panorama garis pantai hijau toska dari titik tertinggi Lombok Tengah.
Ringkasan Berita:
- Bukit Merese jadi destinasi favorit di Mandalika, menawarkan panorama garis pantai hijau toska dari titik tertinggi Lombok Tengah dengan suasana alam yang masih autentik.
- Keindahannya didukung sejarah geologi purba, terbentuk dari proses vulkanisme bawah laut 20–30 juta tahun lalu yang menghasilkan formasi batuan unik.
TRIBUNLOMBOK.COM - Lombok tidak melulu soal pantai. Pulau ini punya deretan bukit yang sangat memikat, namun jika harus memilih satu yang paling berkesan, pilihan saya jatuh pada Bukit Merese.
Rasanya ada yang kurang kalau liburan ke Lombok Tengah tapi tidak menyempatkan diri mendaki bukit yang sedang hits di kalangan pelancong ini.
Satu hal yang membuat saya selalu kagum adalah lokasinya yang berada tepat di jantung eksotisme Mandalika.
Biasanya, saya lebih suka menghabiskan waktu sejenak di Pantai Tanjung Aan sebelum akhirnya memutuskan untuk menanjak ke Merese.
Sebagai titik tertinggi di kawasan tersebut, Merese menawarkan pemandangan yang menurut saya luar biasa, dari puncaknya, kita bisa melihat hampir seluruh garis pantai dengan air laut berwarna hijau toska yang sangat jernih.
Memang butuh sedikit usaha fisik untuk sampai ke atas, namun begitu sampai di puncak, rasa lelah itu seketika hilang berganti rasa syukur, apalagi saat melihat kawanan kerbau yang digembalakan melintas, sebuah pemandangan autentik yang jarang saya temukan di tempat wisata lain.
Dibalik keindahannya, bukit ini menyimpan sejarah geologi yang sangat tua.
Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) NTB Kusnadi menjelaskan, batuan yang ada di bukit terbentuk oleh proses vukanisme bawah laut sekitar 20 sampai 30 juta tahun lalu.
Ahli geologi menyebutnya sebagai Kala Oligosen-Miosen, dimana pada saat itu pulau Lombok belum terbentuk atau belum muncul di permukaan, sehingga proses yang terjadi adalah proses gunung api bawah laut.
Proses gunung api bawah laut tersebut menghasilkan endapan vulkanik yang unik disebut endapan Pepperit,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kusnadi menjelaskan, proses eksogen berupa pelapukan dan erosi yang terjadi setelah pulau Lombok terangkat 10 juta tahun lalu.
Hal itu mengakibatkan bentuk bukit di pantai selatan relatif tumpul.
Proses abrasi air laut yang masih aktif memahat batuan-batuan pada bukit pinggir pantai menjadi unik, seperti batu payung.
Perjalanan menuju ke sini pun sekarang jauh lebih menyenangkan bagi saya. Sejak adanya jalan bypass dari Bandara Internasional Lombok menuju Sirkuit Mandalika, aksesnya menjadi sangat mulus dan cepat.
Kita tidak perlu lagi melewati rute lama yang memutar, cukup lurus mengikuti petunjuk arah menuju Tanjung Aan.
Bagi saya, cara terbaik untuk menikmati tempat ini adalah dengan menyewa sepeda motor, apalagi kalau menginap di sekitar area Kuta.
Kita bisa bebas datang sejak pagi buta untuk mengejar udara segar atau menunggu momen matahari terbenam sebelum area ini tutup pada jam enam sore.
Cukup bayar parkir sepuluh ribu rupiah, keindahan Merese tidak akan pernah terlupakan.
Bukit Merese
rute ke Bukit Merese
keistimewaan Bukit Merese
wisata Lombok hari ini
Tempat Wisata Lombok
| Akhir Pekan Menenangkan di Gawar Gong: Pelarian Alam yang Menyejukkan Jiwa |
|
|---|
| Momen Ramah John Herdman Saat Disapa Warga Lokal di Kuta Mandalika |
|
|---|
| Momen Irish Bella Jelajahi Lombok: Intip Keseruannya di Pantai Pink dan Belanja di Sasaku |
|
|---|
| Wisata Reban Batu Jadi Pilihan Warga Lombok Timur Isi Libur Lebaran 2026 |
|
|---|
| Trekking Empat Jam Menuju Pesona Megah Air Terjun Tiu Sekeper |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Bukit-Merese-1.jpg)