Kasus Keracunan MBG di Lombok Timur Terungkap, Hasil Lab Temukan Bakteri E. Coli
Hasil laboratorium kasus keracunan MBG di Jurit Baru Lombok Timur menunjukkan bakteri E. coli di atas normal pada sampel makanan.
Penulis: Rozi Anwar | Editor: Irsan Yamananda
Ringkasan Berita:
- Hasil uji laboratorium menemukan bakteri E. coli di atas ambang normal pada sampel makanan MBG di Jurit Baru, Lombok Timur.
- Sebanyak 51 orang terdampak dalam insiden dugaan keracunan massal, terdiri dari siswa dan satu ibu hamil.
- Satgas MBG siap menyerahkan hasil laboratorium kepada aparat penegak hukum untuk proses penyelidikan lebih lanjut
TRIBUNLOMBOK.COM - Kasus dugaan keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, memasuki babak baru.
Setelah beberapa pekan menjadi perhatian publik, hasil uji laboratorium akhirnya mengungkap dugaan penyebab gangguan kesehatan yang dialami puluhan penerima manfaat program tersebut.
Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur mengonfirmasi bahwa pemeriksaan laboratorium menemukan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) dalam salah satu sampel makanan MBG dengan kadar melebihi ambang batas normal.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur sekaligus Anggota Satgas MBG, Lalu Aries Fahrozi, menyebut temuan tersebut diduga kuat menjadi penyebab munculnya gejala mual, muntah, sakit perut, hingga diare yang dialami para korban.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan kadarnya (bakteri E. coli) di atas normal,” ujar Aries pada Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, bakteri E. coli memang umum ditemukan di lingkungan. Namun, apabila kadarnya melebihi batas aman dalam makanan, kondisi itu dapat membahayakan kesehatan manusia.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan terhadap dua jenis sampel, yakni makanan cadangan yang disimpan di bank sampel dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan sisa makanan yang sebelumnya dikonsumsi para korban.
Kasus ini bermula pada Jumat (24/4/2026) ketika puluhan siswa di Jurit Baru mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG berupa mihun, sambal tahu, telur goreng, susu kotak, dan pisang.
Beberapa siswa kemudian mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, dan muntah tidak lama setelah makanan dibagikan. Mereka selanjutnya dilarikan ke Puskesmas Pengadangan menggunakan ambulans desa.
Kepala Madrasah Ibtidaiyah setempat, Lalu Imran, mengatakan pihak sekolah sempat menemukan indikasi makanan basi sebelum seluruh siswa menghabiskan menu yang dibagikan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu guru memeriksa ompreng makanan dan menemukan kondisi mihun serta tahu yang diduga sudah basi. Namun, sebagian siswa telah lebih dulu mengonsumsinya.
Insiden tersebut membuat Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah penghentian sementara operasional dapur MBG atau SPPG Jurit Baru. Penutupan itu dilakukan berdasarkan surat bernomor 1928/D.TWS/04/2026 yang diterbitkan pada Sabtu (25/4/2026).
Koordinator Wilayah BGN NTB, Eko Prasetyo, sebelumnya menyatakan penghentian operasional dilakukan sambil menunggu hasil laboratorium, evaluasi menyeluruh, serta perbaikan sistem keamanan pangan di dapur MBG tersebut.
Hingga Minggu (26/4/2026), jumlah korban yang tercatat mencapai 51 orang. Data tersebut terdiri dari 50 siswa dan satu ibu hamil yang mengalami keluhan gangguan pencernaan.
Kepala Puskesmas Pengadangan, Suhamdi, menyebut tujuh orang sempat menjalani rawat inap. Dari jumlah itu, lima pasien telah diperbolehkan pulang, sementara dua lainnya masih menjalani perawatan pada saat laporan disampaikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/keracunan_mbg_lombok_timur_3938282.jpg)