Rabu, 29 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Berita NTB

Butuh Offtaker untuk Datangkan Cabai dari Luar NTB

Pemprov NTB berupaya menekan harga cabai yang mencapai Rp120 ribu/kg dengan mendatangkan pasokan dari luar daerah melibatkan offtaker .

Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM/Ahmad Wawan Sugandika
HARGA BAPOKTING - Salah seorang pedagang cabai di Pasar Mandalika Baretais Kota Mataram. Pemprov NTB berupaya menekan harga cabai yang mencapai Rp120 ribu/kg dengan mendatangkan pasokan dari luar daerah melibatkan offtaker . 

Ringkasan Berita:
  • Pemprov NTB berupaya menekan harga cabai yang mencapai Rp120 ribu/kg dengan mendatangkan pasokan dari luar daerah melibatkan offtaker .
 
  • Gubernur NTB berkoordinasi dengan Bapanas dan Bulog untuk intervensi pasar guna mengendalikan inflasi sebesar 5,37 persen serta menstabilkan harga pangan menjelang Idulfitri.

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah berupaya mendatangkan cabai dari luar daerah untuk menekan harga di pasaran yang masih melabung tinggi.

Dari sejumlah pasar di NTB, harga cabai masih terpantau tinggi, mencapai Rp110 ribu-Rp120 ribu per kilo.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (Distanbun Ketapang) NTB Eva Dewiyani mengatakan, piaknya memerlukan keterlibatan offtaker atau pelaku usaha yang akan membeli komoditas tersebut.

Ia mengatakan mekanisme pengadaan cabai dari luar daerah bersifat business-to-business (B to B), sehingga tidak dapat langsung diintervensi oleh pemerintah.

“Perlu offtaker dulu, karena ini B to B (Business-to-Business). Untuk mendatangkan tidak bisa diintervensi oleh pemerintah,” kata Eva saat mendapingi, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melakukan Sidak di Pasar Brang Biji Sumbawa, Kamis (13/3/2026).

Menurut Eva, keberadaan offtaker penting untuk memastikan distribusi cabai berjalan lancar antar daerah, terutama antara wilayah yang memiliki produksi berlebih dengan daerah yang mengalami kekurangan pasokan.

Ia menjelaskan, offtaker nantinya berperan dalam menjual kembali cabai tersebut sehingga dapat menyeimbangkan pasokan di daerah yang membutuhkan.

Sebelumnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, di sela agenda Safari Ramadan.

Dalam kunjungannya, Iqbal masih menemukan harga cabai rawit berada di kisaran Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram, meskipun pemerintah telah mencoba mendatangkan lebih dari satu ton cabai dari Enrekang, Sulawesi Selatan untuk diedarkan di NTB.

Baca juga: Sidak di Pasar Brang Biji Sumbawa, Gubernur Iqbal Temukan Harga Cabai Masih Pedas

Pemantauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya pengendalian harga bahan pangan menjelang Idulfitri. Saat ini, inflasi di NTB tercatat mencapai 5,37 persen, dengan salah satu penyumbang terbesar berasal dari komoditas cabai rawit sebesar 0,35 persen.

“Di sini kita cek tadi harganya memang masih tinggi, karena ini bukan pasar induk. Intinya rata-rata harganya tinggi,” kata Iqbal.

Iqbal juga membuka kemungkinan untuk kembali mendatangkan cabai dari luar daerah guna menekan harga di pasar. Namun langkah tersebut masih dikoordinasikan dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

“Kita terus melakukan komunikasi dengan badan pangan, karena yang punya data mereka mana daerah yang harga cabainya rendah bisa dibawa ke sini untuk melakukan intervensi pasar,” katanya.

Ia menilai tingginya harga cabai saat ini dipicu oleh mekanisme pasar, yakni terbatasnya pasokan sementara permintaan masyarakat meningkat.

Selain cabai, Iqbal juga menemukan harga sejumlah bahan pangan lain seperti minyak goreng dan beras masih relatif tinggi di wilayah Sumbawa. Meski demikian, pemerintah daerah dapat melakukan intervensi melalui koordinasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog).

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved