Rachmat Hidayat Beri Kode Periode Terakhir Pimpin PDIP di Musancab Lombok Timur
Ketua DPD PDIP NTB Rachmat Hidayat memberi sinyal periode terakhir kepemimpinannya dan memastikan kader tetap bersama rakyat.
Penulis: Rozi Anwar | Editor: Idham Khalid
Ringkasan Berita:
- Musancab PDI Perjuangan Lombok Timur menjadi momentum konsolidasi dan refleksi sejarah perjuangan, dengan penekanan pada penguatan PAC.
- Ketua DPD PDIP NTB Rachmat Hidayat memberi sinyal periode terakhir kepemimpinannya dan menegaskan komitmen turun langsung memastikan kader tetap bersama rakyat.
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Lombok Timur menggelar Musyawarah Anak Cabang (Musancab) di Gedung Wanita Selong, Sabtu (14/2/2026).
Forum lima tahunan ini tak sekadar agenda organisasi, tetapi menjadi momentum refleksi sejarah dan penguatan konsolidasi kader menuju Pemilu 2029.
Musancab dibuka Ketua DPD PDIP NTB, Rachmat Hidayat, dengan rangkaian kegiatan bernuansa ideologis, mulai dari kirab panji partai, hening cipta hingga pembacaan Dedication of Life Bung Karno.
Sebanyak 777 peserta yang terdiri atas pengurus PAC dan ranting se-Lombok Timur memenuhi arena musyawarah.
Ketua DPC PDIP Lombok Timur Ahmad Sukro dalam laporannya menegaskan Musancab menjadi titik kebangkitan partai di daerah tersebut.
“Kita harus jujur melihat diri sendiri. Ini saatnya bangkit, memperbaiki struktur partai dari atas sampai ranting. Kita tidak ingin PDI Perjuangan dianggap tidak ada,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa Lombok Timur memiliki posisi historis dalam perjalanan partai di NTB. “Di sinilah sejarah itu dibangun. Jangan sampai kita membuat malu perjuangan para pendahulu. Lombok Timur harus jadi sesuatu yang berbeda dibanding DPC lainnya,” ujarnya, disambut pekikan siap kader.
Dalam arahannya, Rachmat Hidayat memberi kejutan dengan menghadirkan para pejuang partai era 1980-an, masa ketika partai berjuang di bawah tekanan rezim Orde Baru dan sempat meraih enam kursi DPRD Lombok Timur. Kehadiran mereka, kata Rachmat, bukan sekadar seremoni.
Baca juga: Sosok Ketua Askab PSSI KLU Raden Nuna: Pendiri PS Daygun, Kader Loyal PDIP
Hanya saja, partai ini kemudian didzolimi, karena haknya untuk mendapat kursi pimpinan DPRD ditelikung penguasa. Kursi Pimpinan DPRD Lombok Timur justru dialihkan penguasa ke partai lain yang hanya memiliki lima kursi. Sejak saat itu, perlawanan kader-kader Banteng di Lombok Timur pada pemerintahan Orde Baru kian trengginas.
Fraksi PDI Perjuangan selalu menyatakan Minderheit Nota pada kebijakan pemerintah yang jelas-jelas menelikung rakyat. Rachmat menegaskan, kehadiran para pejuang partai tersebut bukanlah seremonial belaka, melainkan pengingat nilai dasar perjuangan. Para pejuang partai itu kata dia, bukan cerita masa lalu, mereka adalah fondasi partai. Di masa sulit, mereka tidak menyerah.
Politisi kharismatik Bumi Gora ini menegaskan bahwa partai besar tidak boleh tercerabut dari sejarahnya. Nilai keberanian, militansi, dan keberpihakan pada rakyat yang diwariskan para pejuang lama harus menjadi pedoman kader hari ini.
“Dari daerah inilah perlawanan itu dibangun. Kita pernah enam kursi, di masa yang tidak mudah. Sekarang tinggal tiga, tapi jangan pernah merasa kecil. Dari tiga kita bisa kembali ke enam,” ujar Rachmat dengan suara bergetar penuh semangat.
Ia mengingatkan kejayaan masa lalu bukan untuk diratapi, melainkan dijadikan bahan bakar perjuangan. Menurutnya, kunci kebangkitan ada pada konsistensi kader untuk turun langsung ke masyarakat.
“Jangan hanya pandai bicara di forum. Temui rakyat, dengarkan keluhan mereka, dekati tokoh masyarakat. Partai ini hidup kalau kadernya hidup di tengah rakyat,” tegasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/MUSCAB-PDIP-LOTIM.jpg)