NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Polemik Penanganan Sampah

Sampah Mataram Kritis, Walhi NTB Soroti Tata Ruang dan Sistem Pengelolaan

Tim Investigasi Walhi NTB bersama Tim Ekspedisi Sungai Nusantara menemukan perubahan fungsi sungai menjadi tempat pembuangan sampah di Kota Mataram.

|
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM
LINGKUNGAN - Direktur Walhi NTB, Amri Nuryadi. Ia menyebut, masalah sampah yang kerap menumpuk di jalan-jalan Kota Mataram hingga mencemari lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan akumulasi dari lemahnya tata kota. 

Ringkasan Berita:
  • Walhi menyoroti masih minimnya infrastruktur dasar pengelolaan sampah di Kota Mataram.

  • Pada 2023, Tim Investigasi Walhi NTB bersama Tim Ekspedisi Sungai Nusantara menemukan perubahan fungsi sungai menjadi tempat pembuangan sampah di Kota Mataram

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Persoalan sampah di Kota Mataram kembali menjadi sorotan serius setelah pembatasan ritase ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok dalam beberapa pekan terakhir.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai masalah sampah yang kerap menumpuk di jalan-jalan kota hingga mencemari lingkungan bukan semata persoalan teknis, melainkan akumulasi dari lemahnya tata kota, keterbatasan infrastruktur, serta penerapan regulasi yang belum berjalan optimal.

Direktur Walhi NTB, Amri Nuryadin, menegaskan bahwa kondisi tersebut mencerminkan kegagalan sistemik dalam pengelolaan sampah perkotaan.

Menurutnya, persoalan ini tidak bisa terus dipandang sebagai rutinitas biasa, tetapi harus ditempatkan sebagai ancaman serius bagi kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.

“Kita melihat sampah tidak hanya menumpuk di TPS (tempat pembuangan sementara), tetapi juga di jalan-jalan kota dan sungai. Ini menandakan ada masalah mendasar dalam perencanaan kota dan sistem pengelolaan sampah,” kata Amri, Kamis (8/1/2026).

Walhi menyoroti masih minimnya infrastruktur dasar pengelolaan sampah, termasuk ketersediaan bak sampah di kawasan permukiman dan ruang publik.

Kondisi ini diperparah oleh tata ruang permukiman yang kurang tertata, sehingga mendorong warga membuang sampah ke sungai sebagai jalan pintas.

“Ketika lingkungan tidak menyediakan fasilitas yang memadai, masyarakat akan mencari cara sendiri, meskipun itu mencemari lingkungan,” ujarnya.

Amri juga mengkritik pola pengelolaan sampah Kota Mataram yang dinilai masih konservatif, yakni mengandalkan metode buang-timbun. Pendekatan ini, menurutnya, sudah tidak relevan dengan kondisi kota yang padat penduduk dan keterbatasan lahan.

“Cara seperti ini hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya,” tegas Amri.

Selain mencemari lingkungan, sampah juga disebut menjadi salah satu faktor penyebab banjir di Kota Mataram. Tumpukan sampah yang menyumbat drainase dan sungai membuat air meluap saat hujan deras, memicu genangan di sejumlah titik.

Amri menyebut, setiap musim hujan, tumpukan sampah menjadi pemandangan umum di sungai-sungai yang melintasi Kota Mataram. Kondisi tersebut kembali terbukti saat banjir melanda kawasan Universitas Mataram (Unram) pada Minggu, 6 Juli 2025, akibat meluapnya Sungai Ancar.

Baca juga: Volume Sampah Menurun, Tempah Dedoro di Karang Tatah Terbukti Kurangi Beban Pembuangan

Ketakutannya, jika pengelolaan sampah terus tersendat sepert kondisi saat ini, potensi membuang sampah semabarangan termasuk pembuangan di sungai semakin tinggi. Hali ini bisa saja memicu dampak resiko banjir yang lebih parah, terlebih memasuki puncak hujan yang diperkirakan pada Februari mendatang.

Pada 2023, Tim Investigasi Walhi NTB bersama Tim Ekspedisi Sungai Nusantara menemukan perubahan fungsi sungai menjadi tempat pembuangan sampah di wilayah Kota Mataram dan Lombok Barat.

Sumber: Tribun Lombok
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved