NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Kenaikan Muka Air Laut NTB

500 KK di Pesisir Kota Mataram Tinggal pada Daerah Sangat Rawan

Dampak banjir rob tidak hanya menyebabkan rumah rusak, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, khususnya nelayan tangkap.

|
Penulis: Ahmad Wawan Sugandika | Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM/Idham Khalid
ANCAMAN ABRASI - Potret kawasan pesisir di Lingkungan Mapak Indah, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela Kota Mataram, NTB, Senin 10 November 2025. Sebanyak 17 unit rumah di lingkungan ini rusak diterjang gelombang pasang pada Desember 2022 silam. 
Ringkasan Berita:
  • Di wilayah Kecamatan Ampenan saja diperkirakan 500 KK terancam dampak banjir rob saat memasuki musim hujan dan bulan purnama.

  • Dampak banjir rob tidak hanya menyebabkan rumah rusak, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, khususnya nelayan tangkap. 

 

Laporan Wartawan Tribun Lombok.com, Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Dari enam kecamatan di Kota Mataram, garis pantai sepanjang 9 kilometer (km) berada di wilayah Kecamatan Sekarbela dan Ampenan.

Di wilayah Kecamatan Ampenan saja diperkirakan 500 KK terancam dampak banjir rob saat memasuki musim hujan dan bulan purnama.

Camat Ampenan, Muzakkir Walad, menjelaskan bahwa dampak terberat dirasakan warga yang bermukim di daerah tanah GG  (governor ground) atau tanah milik negara di sempadan pantai.

"Dan memang tidak sebagai wilayah yang harus diganti kerugiannya, karena mereka sudah lama diperingatkan untuk tidak membangun di sana," ucap Muzakkir menjawab Tribun Lombok, Senin (17/11/2025).

Dia menambahkan, peringatan dan perencanaan untuk kawasan tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2016. Dari data kecamatan, ada sebanyak 364 KK di Ampenan yang masuk kategori berisiko tinggi terhadap banjir rob.

Selain karena gelombang pasang, kondisi aliran sungai yang semakin buruk juga kerap membuat permukiman warga terendam.   

Lurah Tanjung Karang, Gunawan menuturkan, beberapa lingkungan di kelurahannya memang rawan terdampak akibat abrasi dan luapan air sungai.

Baca juga: EKSKLUSIF - Daratan Mataram Mulai Tenggelam: Kisah Mereka yang Rumahnya Digulung Ombak

Dampaknya tidak hanya menyebabkan rumah rusak, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi Masyarakat pesisir, khususnya nelayan tangkap.

“Masyarakat nelayan beralih profesi (pekerjaan) selama gelombang laut masih tinggi dan kembali melaut setelah cuaca normal,” ujarnya.

Gunawan tidak menafikan ancaman abrasi yang setiap tahun datang. Untuk mengantisipasi dampak lebih buruk, koordinasi terus dilakukan dengan berbagai pihak.

Sebagai langkah mitigasi, pihak kelurahan rutin melakukan pembersihan saluran air, pembersihan pantai, hingga penanaman pohon cemara untuk menahan laju abrasi.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved