NTB

Kerusakan Vegetasi dan Pembangunan Sebabkan Abrasi Pesisir Mataram

TRIBUNLOMBOK.COM/LAELATUNNIAM
ABRASI - Kondisi rumah warga di wilayah pesisir pantai Mapak yang rubuh akibat abrasi ekstrem 24 Desember lalu. Perubahan iklim menyebabkan abrasi dan penyempitan garis pantai di Ampenan dan Mapak, diperparah sedimentasi serta kerusakan ekosistem laut. 
Ringkasan Berita:
  • Perubahan iklim menyebabkan abrasi dan penyempitan garis pantai di Ampenan dan Mapak, diperparah sedimentasi serta kerusakan ekosistem laut. 

  • Dislutan NTB menekankan perlunya mitigasi, perbaikan vegetasi, dan kajian lingkungan untuk setiap pembangunan pesisir.

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Robby Firmansyah

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutan) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Muslim mengungkap kondisi muka air laut di wilayah pesisir Kota Mataram.

Setidaknya ada dua wilayah yang mengalami dampak parah dari perubahan muka air laut ini, yaitu pesisir Ampenan dan pesisir Mapak atau wilayah selatan Kota Mataram.

Muslim mengatakan, perubahan iklim ini merupakan suatu keniscayaan, tetapi dampaknya bisa diminimalisir jika dilakukan mitigasi dengan benar.

"Upaya-upaya yang kita lakukan, memahami kondisi seperti luasan garis pantai yang mulai menyempit, ada air pasang yang menggenangi wilayah Ampenan, dan terjadi abrasi yang disebabkan perubahan iklim di wilayah laut," kata Muslim, Selasa (2/12/2025).

Perubahan iklim ini juga dipengaruhi oleh sesuatu yang terjadi di hulu akan mempengaruhi di hilir. Seperti terjadinya sedimentasi, pembuangan sampah di sungai dari berakhir di laut menyebabkan ekosistem menjadi rusak.

Namun secara angka, Dislutan belum melakukan pengukuran secara saintis terhadap perubahan muka air laut tersebut.

"Secara teori hampir setiap tahun terjadi penurunan terhadap kualitas perairan kita, vegetasi pantai akibat perubahan iklim," kata Muslim.

Baca juga: NTB Kembangkan Ekonomi Masyarakat Pesisir Berbasis Kearifan Lokal

Abrasi yang terjadi di wilayah pesisir Ampenan dan Mapak ini juga dipengaruhi akibat pembangunan objek vital di wilayah sana. Seperti keberadaan depot Pertamina di Ampenan, disana dipasang pemecah gelombang yang mempengaruhi daerah disekitarnya.

Terlebih di wilayah tersebut kata Muslim, ekosistemnya mulai rusak sehingga tidak ada penahanan gelombang yang mengakibatkan terjadinya abrasi.

Padahal seharusnya terumbu karang tersebut, bisa membantu memecah gelombang, ketika air laut sampai di bibir pantai bisa mengurangi kecepatannya.

Begitupun dengan di wilayah Mapak, akibat terdapat PLTG, ini menyebabkan wilayah tersebut perlahan tergerus oleh abrasi. Muslim berharap kedepannya bisa dilakukan perbaikan vegetasi khususnya di wilayah pesisir Kota Mataram ini.

Kemudian setiap pembangunan yang dilakukan dipesisir bisa dilakukan kajian analisis dampak lingkungan, sehingga tidak memperparah kondisi saat ini.

(*)