Rabu, 15 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Mengenal Mersinan, Tradisi Sambut Ramadan Masyarakat Bertais Kota Mataram

Warga Lingkungan Bertais, Kota Mataram, rutin menggelar tradisi Mersinan sepekan jelang Ramadan dengan zikir dan doa.

Penulis: Ahmad Wawan Sugandika | Editor: Idham Khalid
Istimewa
TRADISI RAMADAN - Tradisi Mersinan cara masyarakat Bertais, Kota Mataram sambut Ramadan. 
Ringkasan Berita:
  • Warga Lingkungan Bertais, Kota Mataram, rutin menggelar tradisi Mersinan sepekan jelang Ramadan dengan zikir, doa, dan pengajian bersama tokoh agama.

  • Kegiatan dilaksanakan mandiri di tiap RT, surau, dan musala sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut bulan suci.

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA MATARAM - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat di Lingkungan Bertais Kota Mataram mulai melaksanakan berbagai persiapan spiritual. Salah satu tradisi yang rutin dijalankan adalah “Mersinan” yakni rangkaian kegiatan positif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat di tingkat lingkungan.

Kepada TribunLombok.com, Lurah Bertais Hafizuddin mengatakan, kegiatan Mersinan ini biasanya dimulai sejak satu minggu sebelum memasuki bulan Ramadan hingga H-1 sebelum masuknya bulan Ramadan.

Tradisi ini berjalan dengan masyarakat yang berkumpul bersama pengurus RT, tokoh agama, dan pemuda untuk mempererat silaturahmi sekaligus membersihkan diri secara spiritual.

“Satu minggu sebelum bulan Ramadan itu kita bersama RT, masyarakat di masing-masing lingkungan melaksanakan pengajian bersama tokoh agama, pemuda. Di tradisi Mersinan ini kita gelar zikir bersama, doa bersama, melaksanakan melakukan kegiatan-kegiatan yang positif,” ucap Hagizuddin setelah dikonfirmasi, Selasa (17/2/2026).

Dalam praktiknya, warga mengundang tokoh agama atau Tuan Guru dalam bahasa sasak untuk memberikan ceramah dan pidato keagamaan selama rentetan tujuh sampai satu hari sebelum puasa dimulai.

Baca juga: Hilal Awal Ramadan 2026 di NTB Sore Ini Dipantau dari Pusat Obvservasi Bulan Lombok Utara

Berbeda dengan acara besar yang terpusat, Hafizuddin menjelaskan bahwa kegiatan ini dilakukan secara mandiri di tingkat lingkungan. 

“Dia tidak kolektif. Masing-masing surau, masing-masing musala dilaksankan,” jelasnya.

Hal ini menunjukkan antusiasme yang merata di seluruh Lingkunga  Bertais, di mana setiap RT mengorganisir kegiatannya sendiri, baik di tempat ibadah maupun di rumah warga.

Seluruh RT di Bertais dipastikan turut serta dalam menyemarakkan tradisi menyambut bulan suci ini dengan penuh kekhusyukan.

“Semua RT di Bertais itu secara bergiliran mereka menjalankan tradisi Mersinan ini,” pungkasnya.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved