Senin, 1 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Puluhan Pemuda Korleko Menanam Mangrove untuk Melawan Abrasi dan Tambang

Puluhan pemuda Desa Korleko menanam mangrove dalam aksi “Menanam Melawan” sebagai bentuk protes atas abrasi pantai dan dugaan pencemaran galian C.

Tayang:
Penulis: Rozi Anwar | Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM/Rozi Anwar
LINGKUNGAN - Puluhan pemuda Desa Korleko menanam bibit mangrove di Muara Pantai Bangsal, Lombok Timur, Senin (16/2/2026), sebagai aksi “Menanam Melawan” terhadap abrasi dan dampak aktivitas tambang galian C. 
Ringkasan Berita:
  • Puluhan pemuda Desa Korleko menanam mangrove dalam aksi “Menanam Melawan” sebagai bentuk protes atas abrasi pantai dan dugaan pencemaran galian C.

  • Warga menilai pemerintah abai, sehingga memilih bergerak mandiri untuk melindungi pesisir yang terus terkikis hingga 5–6 meter per tahun.

 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Di tepi Muara Pantai Bangsal, Desa Korleko, Lombok Timur, puluhan pemuda menanam pohon mangrove untuk menjaga pesisir pantai yang sudah abrasi akibat tambang, Senin (16/2/2026).

Aksi yang digagas kolektif Korleko Melawan dan XR Lombok ini bukan sekadar kerja bakti lingkungan biasa. Akasi ini dinamakan Menanam Melawan, kegiatan ini menjadi simbol protes warga atas dua persoalan kronis yang menggerogoti desa mereka yaitu abrasi pantai yang tak terbendung dan aktivitas tambang galian C yang diduga kuat mencemari daerah aliran sungai.

Ketua Karang Taruna Desa Korleko, Farman mengatakan bibit mangrove dan pandan laut ditanam berjejak di area pesisir yang selama ini menjadi garis depan pertahanan desa dari gempuran ombak. Aksi ini merupakan kelanjutan dari pemutaran film dokumenter Galian Celaka sehari sebelumnya, yang menggambarkan dampak destruktif industri pasir di wilayah tersebut.

"Setahun, lima sampai enam meter lahan warga habis ditelan ombak. Kalau tidak dari sekarang kami tanam, nanti kami yang akan tenggelam," ujarnya pada Senin (16/2/2026).

Farman menegaskan, penanaman mangrove ini menjadi kritik keras terhadap pemerintah pusat, daerah, hingga aparat penegak hukum yang dinilai abai. 

"Kami mosi tidak percaya. Karena mereka tak kunjung mampu menghentikan kerusakan," kata Farman

Baca juga: Langganan Abrasi, Gubernur Iqbal Wacanakan Relokasi Warga Pesisir Ampenan

Terpisah salah seorang warga, Ansory, menjadi saksi hidup bagaimana kekayaan alam warisan keluarganya perlahan musnah. Ia menceritakan kalau dulu lahan milik kakeknya seluas 3 hektar, namun karena abrasi pantai, lahan itu berkurang.

"Dulu lahan kakek saya mencapai tiga hektare. Kini, kurang lebih satu hektare yang tersisa. Sisanya habis terkikis abrasi bertahun-tahun," tuturnya.

Dari sudut pandang pegiat lingkungan, aksi ini dinilai sebagai otonomi ekologis warga. Hendrik, aktivis XR Lombok, menyebut bahwa masyarakat tak bisa lagi menunggu uluran tangan negara yang tak kunjung datang.

"Ini gerakan dari bawah. Protes sudah kami suarakan, laporan sudah, tapi tak ada respons berarti. Maka kami memilih bergerak sendiri. Menanam adalah bentuk harapan baru," ujarnya.

Usai menanam, para peserta duduk melingkar di pesisir, menyantap makanan bersama sambil mengevaluasi langkah ke depan. Dari lumpur muara itu, mereka berharap tumbuh tidak hanya pohon, tapi juga kesadaran bahwa masa depan desa ada di tangan mereka sendiri.

"Aksi Menanam Melawan ini menjadi pengingat bahwa bagi warga Korleko, menanam mangrove bukan hanya soal penghijauan, melainkan garis depan perlawanan terhadap ketidakadilan lingkungan," tutupnya.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved