'Menanam Melawan' Simbol Protes Pemuda Korleko Terhadap Abrasi dan Tambang Galian C
Puluhan pemuda menanam mangrove dan pandan laut di pesisir Muara Pantai Bangsal untuk melawan abrasi akibat aktivitas tambang galian C.
Penulis: Rozi Anwar | Editor: Laelatunniam
Ringkasan Berita:
- Puluhan pemuda menanam mangrove dan pandan laut di pesisir Muara Pantai Bangsal untuk melawan abrasi akibat aktivitas tambang galian C.
- Kegiatan “Menanam Melawan” menjadi kritik warga terhadap pemerintah dan aparat yang dianggap abai, sekaligus bentuk gerakan mandiri menjaga lingkungan.
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR – Di tepi Muara Pantai Bangsal, puluhan pemuda menanam pohon mangrove untuk menjaga pesisir pantai yang telah mengalami abrasi akibat aktivitas tambang.
Aksi yang digagas oleh kolektif Korleko Melawan dan XR Lombok ini bukan sekadar kerja bakti lingkungan biasa.
Dinamakan Menanam Melawan, kegiatan ini menjadi simbol protes warga atas dua persoalan kronis yang menggerogoti desa mereka: abrasi pantai yang tak terbendung dan aktivitas tambang galian C yang diduga kuat mencemari daerah aliran sungai.
Ketua Karang Taruna Desa Korleko, Farman, mengatakan, bibit mangrove dan pandan laut ditanam berjejer di area pesisir yang selama ini menjadi garis depan pertahanan desa dari gempuran ombak.
Aksi ini merupakan kelanjutan dari pemutaran film dokumenter Galian Celaka sehari sebelumnya, yang menggambarkan dampak destruktif industri pasir di wilayah tersebut.
"Setahun, lima sampai enam meter lahan warga habis ditelan ombak. Kalau tidak dari sekarang kami tanam, nanti kami yang akan tenggelam," ujarnya pada Senin (16/2/2026).
Farman menegaskan, penanaman mangrove ini menjadi kritik keras terhadap pemerintah pusat, daerah, hingga aparat penegak hukum yang dinilai abai.
"Kami mosi tidak percaya karena mereka tak kunjung mampu menghentikan kerusakan," tegas Farman.
Terpisah, salah seorang warga, Ansory, menjadi saksi hidup bagaimana kekayaan alam warisan keluarganya perlahan musnah. Ia menceritakan bahwa dulu lahan milik kakeknya seluas 3 hektare, namun akibat abrasi, lahan itu kian berkurang.
"Dulu lahan kakek saya mencapai tiga hektare. Kini, kurang lebih satu hektare yang tersisa. Sisanya habis terkikis abrasi bertahun-tahun," tuturnya.
Dari sudut pandang pegiat lingkungan, aksi ini dinilai sebagai otonomi ekologis warga. Hendrik, aktivis XR Lombok, menyebut bahwa masyarakat tak bisa lagi menunggu uluran tangan negara yang tak kunjung datang.
"Ini gerakan dari bawah. Protes sudah kami suarakan, laporan sudah, tapi tak ada respons berarti. Maka kami memilih bergerak sendiri. Menanam adalah bentuk harapan baru," ujarnya.
Usai menanam, para peserta duduk melingkar di pesisir, menyantap makanan bersama sambil mengevaluasi langkah ke depan. Dari lumpur muara itu, mereka berharap tidak hanya pohon yang tumbuh, tetapi juga kesadaran bahwa masa depan desa ada di tangan mereka sendiri.
"Menanam Melawan ini menjadi pengingat bahwa bagi warga Korleko, menanam mangrove bukan hanya soal penghijauan, melainkan garis depan perlawanan terhadap ketidakadilan lingkungan," tutupnya.
| Bocah 10 Tahun Tewas Tenggelam di Sungai Desa Ketangga Lombok Timur |
|
|---|
| Anak 12 Tahun Tenggelam di Dam Sungai Pringgabaya Lombok Timur Ditemukan Meninggal |
|
|---|
| Satgas Telusuri Penyebab Siswa di Lombok Timur Dirawat Usai Konsumsi Menu MBG |
|
|---|
| Kasus Siswa di Lombok Timur Dirawat Usai Santap MBG, 28 Orang Sudah Dipulangkan |
|
|---|
| Dishub Lombok Timur Siapkan Raperda untuk Jegal Kendaraan Kelebihan Muatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Puluhan-pemuda-menanam-mangrove-dan-pandan-laut-di-pesisir-Muara-Pantai-Bangsal.jpg)