Minggu, 12 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

In Memoriam Pele: Sang Raja Bola dengan Sihir Abadi

Dia merupakan raja bola dengan sihir yang memukau. Selama masih ada sepak bola, Pele akan senantiasa bertakhta sebagai Raja.

Editor: Dion DB Putra
AFP
Legenda sepak bola Brasil, Pele. Pele meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Sao Paolo, 29 Desember 2022. 

TRIBUNLOMBOK.COM - Siapapun pasti sepakat untuk satu hal bahwa Pele adalah raja sepak bola dunia.

Bintang sepak bola Brasil tersebut tutup usia pada 29 Desember 2022 dalam umur 82 tahun.

Dunia kehilangan satu di antara sedikit orang yang dinobatkan sebagai olahragawan terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia.

Baca juga: Presiden Brasil Tetapkan Tiga Hari Berkabung Nasional untuk Menghormati Pele

Dia merupakan raja bola dengan sihir yang memukau. Selama masih ada sepak bola, Pele akan senantiasa bertakhta sebagai Raja.

Edson Arantes do Nascimento yang lebih dikenal dengan sapaan Pele wafat setelah sejak 29 November 2022 dirawat di Rumah Sakit Albert Einstein, Sao Paulo, Brasil.

Pele mesti mendapatkan perawatan intensif karena penyakit kanker usus dan infeksi saluran pernapasan yang sempat menderanya.

“Dalam perjalanannya, Edson memukau setiap orang dengan kecemerlangannya dalam olahraga, menghentikan perang, melakukan kerja sosial di seluruh dunia, dan menyebarkan apa yang dipercaya menjadi obat untuk segala masalah: cinta,” demikian pernyataan yang tertuang dalam Instagram resmi Pele.

“Pesan Anda dalam kehidupan akan menjadi warisan untuk generasi yang akan datang. Inspirasi dan cinta menandai perjalanan dari Pele Sang raja, yang meninggal dalam damai hari ini.”

“Cinta, cinta, dan cinta selamanya,” demikian baris akhir dari pernyataan dalam Instagram Pele pada 29 Desember atau 30 Desember 2022 dini hari WIB.

Ada alasan kenapa Pele menyandang julukan O Rei, alias Sang Raja. Ia memang bertakhta di singgasana tertinggi sepak bola dunia.

Pele sampai kini menjadi satu-satunya pesepak bola yang sukses memenangi tiga gelar juara Piala Dunia, yakni pada 1958, 1962, dan 1970.

Ketika mengantar Brasil juara pada 1958, Pele masih seorang anak remaja berusia 17 tahun.

Ambisinya mengantar Brasil menjadi kampiun Piala Dunia muncul ketika dirinya melihat sang ayah menangis tersedu meratapi tragedi Maracanazo pada 1950.

Pada 1950, Brasil secara tragis kalah dari Uruguay di kandang sendiri, Stadion Maracana, dalam sebuah laga penentu trofi Piala Dunia.

Berawal dari tetes air mata, Pele memberi sukacita kepada sepak bola lewat permainannya.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved