Perpustakaan Komunitas Lentera Bendrang Resmi Dibuka di Desa Jenggik
Perpustakaan Komunitas Lentera Bendrang, hasil kolaborasi Rumah Senja Indonesia dan Terang Bendrang Foundation — resmi dibuka
Ringkasan Berita:
- Dalam banyak inisiatif pembangunan, masyarakat ditempatkan sebagai penerima manfaat: pasif, perlu dibina, perlu diintervensi.
- Pendekatan perpustakan Komunitas Lentera Bendrang yakni warga dilibatkan sejak awal, dari pemetaan kebutuhan hingga pengelolaan harian.
TRIBUNLOMBOK.COM - Perpustakaan Komunitas Lentera Bendrang, hasil kolaborasi Rumah Senja Indonesia dan Terang Bendrang Foundation — resmi dibuka di desa Jenggik, Kecamatan Terara Kabupaten Lombok Timur.
Peresmian perpustakaan ini turut dihadiri oleh Bunda Literasi Provinsi NTB, Ibu Sinta M Iqbal.
Sekilas, perpustakaan ini tampak tidak berbeda dengan ruang baca komunitas lain yang bermunculan di pelosok Indonesia.
Tapi di balik bangunan sederhana itu, ada model yang patut dicermati lebih dekat.
Indonesia tidak kekurangan program literasi.
Yang kurang adalah pemahaman bahwa literasi tidak berhenti di kemampuan dasar baca, tulis, dan hitung.
Baca juga: Kunjungan Perpustakaan Mataram Tembus 31.500 Orang, Lampaui Target Awal
Anak yang sudah bisa membaca buku pelajaran belum tentu bisa membaca label obat.
Orang tua yang lulus SD puluhan tahun lalu sering kali tidak punya akses pada informasi soal nutrisi, hak hukum, atau cara menjaga lingkungan tempat mereka bergantung.
Di titik inilah pendekatan Lentera Bendrang berbicara.
Perpustakaan ini dirancang sebagai ruang lintas generasi.
Untuk anak-anak, ada buku, kelas kreatif, dan kegiatan belajar di luar jam sekolah.
Untuk perempuan dewasa dan lansia, tersedia bahan dan diskusi yang relevan dengan keseharian mereka — literasi kesehatan, literasi finansial, literasi lingkungan.
Pendekatan ini mengakui sesuatu yang kerap dilupakan: literasi orang dewasa di Indonesia jarang menjadi prioritas, padahal merekalah yang setiap hari mengambil keputusan untuk keluarga dan komunitasnya.
Pendekatan multi-literasi ini juga beririsan dengan kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, bukan hanya sebagai daftar capaian yang dicentang, melainkan sebagai hasil yang alami.
Komunitas yang memiliki akses pada pengetahuan kesehatan akan lebih siap menyikapi target SDG 3, yakni Kesehatan dan Kesejahteraan.
Komunitas yang melek finansial akan lebih kuat menopang SDG 8, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
Komunitas yang memahami isu lingkungan akan lebih kritis terhadap agenda SDG 13, Penanganan Perubahan Iklim. Juga Pendidikan berkualitas (SDG 4), dalam logika ini, bukan sebagai tujuan akhir melainkan gerbang pintu masuknya.
Hal lain yang membedakan model Lentera Bendrang adalah posisi komunitas. Dalam banyak inisiatif pembangunan, masyarakat ditempatkan sebagai penerima manfaat: pasif, perlu dibina, perlu diintervensi.
Di tempat ini, pendekatannya berbeda. Warga dilibatkan sejak awal, dari pemetaan kebutuhan hingga pengelolaan harian.
Asumsinya jelas — komunitas tahu paling baik apa yang mereka butuhkan, dan keberlanjutan hanya mungkin jika kepemilikan benar-benar ada di tangan mereka.
Prinsip "no one left behind" yang sering muncul sebagai jargon dalam dokumen pembangunan diuji di sini dalam bentuknya yang paling konkret.
Anak yang belum lancar membaca, perempuan yang baru kembali ke ruang belajar setelah puluhan tahun, lansia yang ingin sekadar mendengarkan: semua punya tempat. Tidak ada syarat keaksaraan untuk masuk.
Tentu, tantangannya tidak mudah. Inisiatif berbasis komunitas di Indonesia kerap berhenti di tahap pilot, kehilangan dukungan setelah peresmian, atau gagal bertahan begitu pendirinya melepas tangan.
Lentera Bendrang masih harus membuktikan bahwa modelnya bisa berjalan dalam jangka panjang, di luar momentum awal.
Tapi cara ia memandang perpustakaan,bukan sebagai gudang buku, melainkan sebagai ruang yang mengikat berbagai isu pembangunan di satu titik akar rumput adalah pergeseran cara berpikir yang layak diperhatikan oleh siapa pun yang serius bekerja di isu literasi di Indonesia.
(*)
| NTB Perkuat Literasi Politik dan Hukum untuk Wujudkan Demokrasi yang Sehat |
|
|---|
| Menyelami Realitas Sosial NTB Lewat Karya Seni: Dari Kemiskinan hingga Sulitnya Akses Pendidikan |
|
|---|
| Kunjungan Perpustakaan Mataram Tembus 31.500 Orang, Lampaui Target Awal |
|
|---|
| Perpustakaan Kota Mataram Hadir dengan Wajah Baru, Koleksi 60 Ribu Buku dan Fasilitas Modern |
|
|---|
| Gedung Serbaguna Perpustakaan Mataram Diresmikan, Dukung Literasi Inklusif |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/perpustakan_lentera_bendrang_202028.jpg)