Opini
Kesalehan Sosial Melahirkan Harmoni Kehidupan
Kesalehan sosial seharusnya tidak hanya muncul saat Ramadhan. Kepedulian terhadap sesama adalah nilai yang harus terus hidup dalam keseharian.
Oleh: H Ahsanul Khalik
*Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah NTB dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB
Ramadhan selalu menjadi momen di mana kesalehan sosial tampak begitu nyata. Orang-orang berlomba-lomba untuk berbagi, membantu sesama, dan menunjukkan kepedulian yang mendalam terhadap mereka yang kurang beruntung. Masyarakat kelas atas dengan tulus menyisihkan hartanya tidak hanya untuk sesama yang kaya, tetapi juga untuk mereka yang miskin. Bahkan kelompok masyarakat miskin pun tak mau ketinggalan, berbagi meski hanya sekedar makanan atau parsel kecil. Indahnya lagi, nilai kepedulian ini juga merangkul lintas agama, menciptakan harmoni sosial yang lebih luas.
Keindahan ini semakin nyata ketika kita melihat semangat berbagi melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya individu, tetapi juga para pejabat negara dari pusat hingga daerah turut berlomba mengeluarkan zakat secara kolektif. Presiden, wakil presiden, para menteri, gubernur, bupati, wali kota, hingga pejabat ASN dengan suka cita menyalurkan zakat mereka kepada umat. Pemandangan ini menunjukkan bahwa kesalehan sosial bukan hanya milik individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif yang harus terus dipelihara.
Namun, kesalehan sosial seharusnya tidak hanya muncul saat Ramadhan. Kepedulian terhadap sesama adalah nilai yang harus terus hidup dalam keseharian, bukan sekadar reaksi atas momen tertentu atau dorongan memperoleh pahala musiman. Jika kesalehan sosial hanya hadir di bulan Ramadhan, lalu ke mana ia menghilang di bulan-bulan lainnya?
Dalam ajaran agama, kesalehan sosial justru memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan ritual-ritual ibadah lainnya seperti shalat, puasa, atau haji. Sejarah memberikan banyak contoh bagaimana seseorang mendapatkan jaminan surga bukan karena ibadah ritualnya semata, melainkan karena kebaikannya terhadap sesama. Dikisahkan ada seorang wanita yang hidup di zaman Nabi, meski ibadahnya biasa saja, namun ia dijamin surga karena kasih sayangnya kepada seekor anjing yang hampir mati kehausan. Sebaliknya, ada pula seseorang yang tekun beribadah, tetapi karena perilakunya yang buruk terhadap tetangganya, ia malah terancam siksa neraka.
Ini membuktikan bahwa kesalehan sejati bukan hanya tentang hubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia. Islam menekankan bahwa ibadah yang sempurna adalah yang membawa manfaat bagi orang lain, bukan hanya yang dilakukan secara pribadi.
Lebih dari itu, kesalehan sosial memiliki daya dorong besar dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis. Ketika kepedulian terhadap sesama menjadi budaya, kesenjangan sosial dapat ditekan, ketidakadilan berkurang, dan kesejahteraan menjadi milik bersama. Relasi yang terjalin bukan lagi sekadar hubungan vertikal antara yang berkuasa dan yang lemah, yang kaya dan yang miskin, tetapi relasi kesetaraan yang dibangun atas dasar kebersamaan dan solidaritas.
Kesalehan sosial adalah kunci keluar dari berbagai masalah seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan. Semangat berbagi dan kepedulian adalah jalan menuju kehidupan yang lebih harmonis, penuh kasih sayang, dan sejahtera. Namun, semangat ini tidak boleh hanya ada di bulan Ramadhan. Kesalehan sosial bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi seharusnya menjadi jalan hidup yang terus diterapkan setiap saat.
Semestinya, kita tidak hanya tergerak berbagi karena dorongan Ramadhan atau sekadar menjalankan perintah agama untuk memperoleh pahala. Kesalehan sosial adalah pilihan dan jalan menuju harmoni kehidupan. Dalam setiap harta yang kita miliki, ada hak orang lain yang membutuhkan. Dengan terus menerapkan nilai ini, kita bukan hanya menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan.
Ramadhan mungkin bisa menjadi titik awal bagi banyak orang untuk berbuat baik, tetapi nilai-nilai kesalehan sosial harus tetap menyala sepanjang waktu. Karena sejatinya, keberagamaan yang benar bukan hanya diukur dari seberapa sering seseorang beribadah, tetapi seberapa besar manfaatnya bagi orang-orang di sekitarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Khalik-Ahsanul.jpg)