Sejarah Nusantara

Mengenal Warige, Konsep Penaggalan Tradisional Suku Sasak Lombok

Demikian juga dengan suku Sasak, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki sistem penanggalan lokal atau dikenal dengan nama warige.

TRIBUNLOMBOK.COM/LALU M GITAN PRAHANA
Warige atau kalender tradisonal suku sasak, koleksi benda filologika dari Museum NTB yang sedang dipamerkan di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpusatakaan Lombok Barat. 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com Lalu M Gitan Prahana

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Artikel ini akan menayangkan informasi seputar konsep penanggalan Suku Sasak, yakni warige.

Setiap kelompok suku bangsa pada umumnya mengenal suatu cara di dalam penentuan waktu atau yang dikenal dengan sebutan sistem penanggalan tradisional.

Demikian juga dengan suku Sasak, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat yang memiliki sistem penanggalan lokal atau dikenal dengan nama warige.

Pipit Gunarti, selaku ketua Pameran Museum Keliling NTB di Lombok Barat menuturkan, Warige merupakan sistem penanggalan yang dimiliki oleh suku Sasak.

Baca juga: Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Lombok Barat Gelar Pameran Museum dan Literasi Sejarah

Adapun fungsi dari warige oleh masyarakat suku Sasak, bukan saja untuk menentukan hari atau tanggal.

Warige dahulu juga digunakan sebagai acuan dalam melihat pertanda dan perilaku tertentu dengan berpatokan pada alam.

"Sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengetahui keadaan cuaca, perubahan musim dan menyesuaikan dengan kegiatan harian mereka," terang Pipit Ginarti, pada Rabu (5/10/2022).

Sehingga warige dapat dikatakan sebagai suatu rujukan dalam mengidentifikasi berbagai aktivitas masyarakat suku Sasak, seperti bercocok tanam dan menangkap ikan di laut.

Baca juga: Peneliti Australia Sebut Suku Sasak Sangat Toleran, Hidup Damai dengan Warga Hindu-Bali

"Jadi warige memberikan petunjuk bagi masyarakat suku Sasak, kapan menanam yang baik, kapan harus berlayar ke timur atau berlayar ke arah barat," lanjutnya.

Bahkan pada bulan-bulan tertentu, kelander ini juga menjadi acuan untuk menghadapi perubahan musim yang akan membawa hal buruk atau bala dalam kehidupan masyarakat.

Seperti contoh pada tahun 2018 lalu saat terjadi gempa.

Masyarakat heboh dengan rumor akan ada tsunami, namun para nelayan tetap berada di tepi pantai.

"Itu karena mereka sudah tahu tidak akan terjadi tsunami melalui tanda-tanda yang telah dipelajari di dalam konsep warige ini," lanjut Pipit Ginarti.

"Sehingga pada dasarnya warige bukan hanya sistem penanggala biasa seperti sekarang, melainkan sebagai informasi dalam menjaga ketahanan pangan bahkan keselamatan," tutupnya.

Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved