Mengenal Tradisi Maleman Masyarakat Sasak Menyambut Lailatul Qadar

Berbagai macam tradisi dilakukan masyarakat Lombok menyambut malam lailatul qadar. Seperti tradisi "maleman" dengan menyalakan lampu atau DIle Jojor.

TRIBUNLOMBOK.COM/AHMAD WAWAN SUGANDIKA
Warga memasang Dila Jojor di kuburan keluarga dalam tradisi maleman masyarakat Sasak menyambut Lailatul Qadar, di Lombok Timur. 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Berbagai macam tradisi dilakukan masyarakat Lombok menyambut malam lailatul qadar.

Seperti tradisi "maleman" dengan menancapkan lampu-lampu yang disebut warga sebagai "Dila Jojor".

Dila Jojor ini dipasang di setiap sudut pekarangan rumah, hingga ke sudut makam keluarga.

Lampu tradisional ini terbuat dari biji buah jamplung yang dikeringkan hingga mengeluarkan minyak dan dicampur dengan kapas.

Lalu ditempelkan pada irisan bambu hingga berbentuk seperti sate.

"Biasanya Dila Jojor ini kita pasang di pojokan rumah dan di makam-makam keluarga pada malam ganjil, sehingga semuanya menjadi terang," ucap Dimi Al-Azumi, salah satu warga Dusun Nenggung, Kecamatan Masbagik, Selasa (26/4/2022).

Baca juga: Berikut Bacaan Niat Sholat Malam Lailatul Qadar serta Tata Caranya

Baca juga: Kiat Agar Ibadah Tidak Kendor di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Malam Datangnya Lailatul Qadar

Dila Jojor biasanya mulai dipasang ketika selesai berbuka puasa.

Bahkan anak-anak membawa Dila Jojor berkeliling dusun sambil melantunkan salawat.

Dila Jojor selanjutnya akan dibiarkan menyala semalaman sampai batang lampu terbakar habis.

Halaman
123
Sumber: Tribun Lombok
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved