NTB
Potret Pacuan Kuda di Bima: Antara Hobi Kalangan Elite, Penjudi, dan Nyawa Joki Cilik
Penulis: Atina | Editor: Lalu Helmi
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Atina
TRIBUNLOMBOK.COM, BIMA - "Boe.. Boe.. Boe anaeeee... (Pukul... Pukul.... Pukul anak kuuuu...)." seru penonton, meminta joki cilik memacu kudanya dan teriakan ini seolah berlomba dengan suara derap sepatu pada kaki kuda pacuan yang melesat cepat.
Di atasnya, terdapat seorang anak bertubuh mungilnya dengan lincah memainkan pecut ke tubuh kuda, sembari mengekang tali pada bagian kepala kuda untuk mengarahkannya.
Dari jauh, aksi tangan-tangan mungil berusia 6 hingga 10 tahun ini terlihat menakjubkan.
Baca juga: Sirkuit Pacuan Kuda Internasional Bakal Dibangun di Dompu NTB
Baca juga: Ribuan Ayam Beku Ilegal Beredar di Kota Bima, Peternak Lokal Berang
Bukan hanya satu kuda, tapi hingga puluhan kuda harus dinaiki oleh satu joki cilik dalam satu hari.
Mereka turun dan naik dari kuda satu ke kuda lainnya, yang dibantu para orang tua dan pemilik kuda.
Terik matahari dan debu beterbangan, menjadi pelengkap kenikmatan bagi pecinta pacuan kuda.
Riuh tepuk tangan dan uang taruhan, menutup satu resiko besar yang harus ditanggung dalam praktek pacuan kuda ini, yakni nyawa sang joki cilik.
Betapa tidak, karena ketika si joki terjatuh maka akan terinjak kuda lain yang kecepatannya tidak bisa dikontrol layaknya mobil menggunakan rem.
Herman seorang pecinta kuda di Bima menjelaskan, ada beberapa kelas kuda yang biasanya mengikuti pacuan kuda di Bima.
Ada kelas TK A, TK B, OA, OB, THA, THB, TA, TB, TC, dewasa A, dewasa B, dewasa C, dewasa D, dewasa E dan dewasa F.
Kelas yang biasanya ditunggangi joki cilik, mulai dari kelas TK A hingga kelas dewasa A dan B.
Sisanya, akan ditunggangi oleh joki yang berusia di atas 10 tahun.
Artinya, dari banyak kelas yang dipertandingkan dalam event pacuan kuda, lebih banyak menggunakan jasa joki cilik karena kuda berukuran kecil.
"Iya, karena rata-rata kuda lokal," kata Herman.
Hal senada juga disampaikan Abdul Gani, ayah dari joki cilik yang meninggal di Kecamatan Woha kemarin.
Hanya pacuan kuda di Bima, yang menggunakan joki cilik karena kuda yang bertanding merupakan kuda lokal, dengan ukuran badan kecil.
Sedangkan di daerah lain seperti di Kabupaten Sumba, joki sudah berusia dewasa, karena kuda yang mengikuti pacuan merupakan kuda blesteran yang ukuran tubuhnya tinggi.
"Kalau kuda di Bima nggak bisa lari kalau jokinya besar," ungkapnya.
Pacoa Jara atau Pacuan Kuda Renggut 3 Nyawa Joki Cilik
Mirisnya, Pacoa Jara atau Pacuan Kuda tradisional di Bima ini kembali merenggut nyawa satu orang joki cilik, yang baru merasakan duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) kelas 1, bernama Peci.
TribunLombok.com menghimpun dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA), setidaknya sudah ada tiga joki cilik yang meninggal dalam beberapa tahun terakhir.
Satu joki cilik asal Kota Bima, satu dari Kabupaten Bima dan satu lagi dari Kabupaten Dompu.
Namun yang paling menghebohkan adalah, kematian joki cilik asal Kota Bima Sabila, yang meninggal saat event pacuan kuda berlangsung, Oktober 2019 lalu.
Organisasi anak hingga kementerian, hadir di Kota Bima mengusut bagaimana praktek pacuan kuda di Bima yang melibatkan anak, hingga muncul dugaan adanya eksploitasi anak.
Hasilnya saat itu, direkomendasikan standar keselamatan bagi joki cilik yang harus diterapkan penyelenggara pacuan, hingga jaminan kesehatan dan asuransi bagi joki cilik.
Faktanya, hingga saat ini rekomendasi tersebut hanya sebatas di atas kertas.
Ismail seorang warga di Bima menyampaikan, beberapa kali event pacuan kuda yang digelar di arena Desa Panda Kabupaten Bima, belum terlihat adanya penggunaan pengaman keselamatan pada joki cilik.
"Saat awal-awal dulu sempat lihat yang di arena Sambinae Kota Bima. Tapi setelah itu tidak ada lagi," aku pria yang tidak pernah ketinggalan menonton pacuan kuda ini.
Nurlaela, ibu dari Peci sang joki cilik yang meninggal mengaku, saat latihan atau tarene , anaknya hanya diupah uang Rp 50 ribu oleh pemilik kuda.
"Itu pun harus diminta. Kalau tidak diminta, pemilik kuda langsung pergi. Nggak ngasi apa-apa. Saya ngomong terbuka saja," ungkap Nurlaela, saat ditemui TribunLombok.com.
Nurlaela mengaku, memiliki 5 orang anak yang terdiri dari empat orang laki-laki dan satu orang perempuan.
Empat anak laki-lakinya, semua menjadi joki cilik sejak usia 6 tahun hingga 10 tahun dan Peci menjadi anak bungsu yang meneruskan profesi kakaknya.
"Saya sejujurnya tidak pernah mengizinkan, anak saya menjadi joki pacuan. Saya jarang sekali menonton anak saya saat pacuan, karena tidak tega. Tapi mau bagaimana, kita istri ikuti kata suami," akunya menggunakan bahas Bima, di hadapan petugas LPA Kabupaten Bima.
Sejak anak pertamanya menjadi joki cilik, Nurlaela mengaku, perekonomian keluarga sedikit terbantu hingga bisa membangun rumah.
Namun itu semua tidak mudah, karena ia mendapati anak-anaknya terluka dan tidak dihargai sepantasnya.
Dulu ungkapnya, saat sesi latihan pemilik kuda hanya memberi uang Rp 20 ribu.
"Tapi sekarang mendingan, udah naik jadi 50 ribu rupiah," sebut Nurlaela.
Ia kerap marah kepada suami, jika anaknya tidak diberi upah oleh pemilik kuda karena menurutnya, tidak mungkin kuda bisa dipacu di arena tanpa keterampilan yang dimiliki joki.
Bagaimana saat pertandingan atau event pacuan kuda?
Menurut Nurlaela, ketika kuda berhasil meraih bendera atau menjadi juara maka di situlah pemilik kuda memberikan uang dengan kisaran jutaan rupiah.
"Tapi itu saat final dan dapat bendera. Kalau sebelum final itu, sekitar seratus atau dua ratus dikasi," ungkapnya.
Kini Nurlaela menyesal, karena telah membiarkan anak bungsunya menjadi joki cilik.
Jika pun masih memiliki anak lagi, maka ia pastikan anaknya tersebut tidak akan menjadi joki cilik seperti kakak-kakaknya yang lain.
Ia berharap, tidak ada lagi yang bernasib sama seperti anaknya dan para pemangku kepentingan memiliki niat baik untuk memperbaiki penyelenggaraan pacuan kuda di Bima.
"Saya menyesal, anak saya sudah meninggal," ujarnya dengan nada sedih.
Pacuan Kuda, Hobi Mahal Kalangan Elit dan Surga Bagi Penjudi
Pacuan kuda di Bima saat ini, menjadi hobi mentereng kalangan elit dan borjuis di Bima.
Tak tanggung-tanggung, harga satu kuda bisa puluhan, ratusan hingga menyentuh angka miliaran rupiah.
Pemiliknya, mulai dari kepala daerah, anggota dewan, pengusaha hingga ASN yang memiliki pejabat strategis.
Kepala daerah di Kota Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu hingga Gubernur NTB pun, masing-masing memiliki kuda.
Event pacuan kuda pun, menjadi momen spesial bagi kalangan elit ini untuk bertemu dan bercengkrama.
Dihadapan mereka, tersaji tontonan anak di bawah 10 tahun memacu kuda secepat mungkin melesat mengelilingi arena hingga menjadi juara.
Tak canggung, mereka kerap mengunggah keberhasilan kuda-kuda miliknya tersebut tanpa apresiasi sedikit pun pada sang joki cilik yang mengendalikan kuda hingga menang.
Ada sisi lain juga yang terlihat dalam arena pacuan kuda, terutama saat event pertandingan.
Arena pacuan kuda, diduga menjadi surga bagi mereka suka bertaruh cuan dan dalam jumlah yang tidak sedikit.
Informasi yang dihimpun, ada ratusan juta rupiah yang berputar hanya dalam satu hari pertandingan pacuan kuda.
Sedangkan pacuan kuda, bisa berlangsung tiga hari hingga satu pekan lamanya, tergantung banyaknya jumlah kuda yang bertanding.
TribunLombok.com mengonfirmasi soal dugaan praktek judi dalam arena pacuan kuda ini kepada LPA Kota Bima, yang pernah konsen mengawal kasus kematian joki cilik di Kota Bima.
Dugaan perjudian itu kata Ketua LPA Kota Bima, Juhriati, menjadi sesuatu yang sulit dibuktikan.
Namun pada kalangan penikmat pacuan, taruhan merupakan sesuatu yang wajar sehingga tidak dianggap sebagai perjudian.
Pihaknya ingin membawa ke ranah hukum pun sulit, karena tidak mudah membuktikannya.
Saat ini kata Juhriati, yang paling penting adalah komitmen semua pihak untuk tidak menggunakan lagi anak sebagai joki dengan alasan apapun.
Menurutnya, event pacuan kuda tetap bisa digelar tanpa harus melibatkan anak, dengan mempertaruhkan masa depan anak-anak.
"Bermain, belajar dan sehat adalah hak dasar yang wajib dipenuhi untuk seorang anak. Joki cilik tidak boleh digunakan untuk alasan olahraga atau pun budaya," pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/jaran.jpg)