NTB

Cerita dari Penjual Mutiara di Lembar, Dulu Banyak Didatangi Turis Asing hingga Bisa Kumpulkan Dolar

(Tribunlombok.com, Robbyan Abel Ramdhon)
Arif, penjual mutiara di Pelabuhan Lembar. (Tribunlombok.com, Robbyan Abel Ramdhon) 

Laporan Wartawan Tribunlombok.com, Robbyan Abel Ramdhon

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT – Angin membawa aroma garam sampai ke gerbang Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, pada Jumat (28/1/2022).

Di depan dermaga ada belasan kapal bersandar tanpa aktivitas.

Fasilitas ruang tunggu untuk penumpang di dekat gerbang masuk pelabuhan pun tampak sepi. 

Ketika Tribunlombok.com memasuki area parkir, ada tujuh truk dump sedang mengantre memasuki Kapal Oasis.

Di bagian timur area parkir, terdapat 14 bangunan pertokoan berderet dengan berbagai macam dagangan.

Di salah satu bangunan pertokoan itulah, Arif (60), seorang penjual mutiara, memamerkan barang-barangnya. 

Sebelumnya ia tidak menyangka bisnis tersebut bisa mendatangkan keuntungan.

Ia mengawali profesinya sebagai pedagang oleh-oleh dengan menjual kaos Lombok.

Baca juga: Wisata Alam di Mandalika Rusak, Tambang Emas Ilegal di Bukit Prabu Ditutup

Bahkan pria dengan tujuh anak itu bercerita pernah berkeliling menjual es, terang bulan, hingga kelender.

“Saya diselamatkan seorang teman, orang Mataram, dia yang mengajak saya berjualan mutiara,” kata Arif, di tokonya pada Jumat (28/1/2022).

Tidak lagi berkeliling, kini Arif membuka toko mutiaranya di area pertokoan di dalam Kawasan Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.

Arif mulai berjualan di toko kurang dari setahun dengan biaya sewa Rp150 ribu perbulan

Namun dulu saat dirinya belum menyewa toko seukuran 4x3 meter itu, ia telah aktif berkeliling di sekitar wilayah pelabuhan hingga menawarkan mutiaranya dari kapal ke kapal sejak tiga puluh tahunan silam. 

“Masuk kita di kapal-kapal itu, dulu banyak yang beli, waktu jaman Pak Harto (Presiden ke-2 RI),” kenang Arif.

Sambil mengerutkan kening, Arif mengingat kembali apa yang terjadi dua tahun belakangan ini.

Baca juga: Naik Puncak Tambora Butuh 42 Jam, Turun Gunungnya Hanya 7 Jam

Tuturnya, pandemi Covid-19 membuatnya harus lebih bersabar kendati pernah tidak mendapatkan hasil jualan sepeser pun berhari-hari.

Arif juga bercerita bagaimana dulu dirinya sering mendapat pelanggan turis asing yang mencari mutiara dan berbelanja dengan mata uang dolar.

“Dolar, Euro, bahkan Baht saya pernah. Tapi saya sudah kapok terima Baht, rugi,” guraunya.

Harga dari mutiara yang dijualnya cukup beragam. Mulai dari yang termurah Rp100 ribu (mutiara air tawar) hingga Rp1 juta (mutiara air laut).

Namun semenjak pelabuhan sepi akibat pandemi covid-19, waktu buka toko miliknya menjadi tidak menentu. Volume penjualan pun ikut menurun.

“Kadang buka sore, kadang siang, kadang pagi, bahkan kadang libur. Nanti kalau dapat telepon dari teman di sini yang mengabarkan ada tamu datang, baru langsung ngebut,” jelasnya.

Arif menambahkan, di zaman kepemerintahan Presiden Jokowi, banyak kapal mulai beroperasi dengan harga tiket yang terjangkau.

Kendati demikian, kata Arif, ramainya kapal tidak diiringi dengan ramainya penumpang.

Baca juga: Wagub NTB Sebut Buku Tuan Guru Bajang dan Covid-19 Ikhtiar Menyelamatkan Umat

“Biasanya yang masih sering berbelanja ya orang-orang angkatan (Tentara Angkatan Laut), beli buat istri mereka,” kata pria yang punya dua belas cucu itu.

Selain akibat pandemi covid-19, Arif juga mengaitkan sepinya turis asing yang datang ke Lombok dengan berbagai bencana alam dan kerusakan lingkungan.

Menurutnya, turis asing cenderung tidak berani datang ke Lombok karena potensi gempa yang relatif sering terjadi.

“Gunung-gunung dikeruk terus, itu yang bikin bumi kita goyang, lemah. Nanti bencana datang lagi, sepi pengunjung, kita makan apa?” keluhnya.

Arif berharap, semoga ke depannya Lombok bisa lebih baik dari segi lingkungan dan pariwisata, agar dapat memancing kembali turis-turis asing.

“Semoga bisa seperti dulu,” pungkasnya.

(*)