NTB
PLN NTB Manfaatkan Sekam dan Serbuk Kayu Jadi Sumber Energi Terbarukan
Penulis: Sirtupillaili | Editor: Maria Sorenada Garudea Prabawati
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Sirtupillaili
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Setelah menggunakan pelet sampah sebagai tambahan bahan baku biomassa (co-firing) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang, PLN NTB melalui anak usahanya PT Indonesia Power kembali membuat inovasi.
Mereka memanfaatkan sekam dan serbuk kayu sebagai alternatif energi dalam proses co-firing pada pembangkit listrik.
"Sekam dan serbuk kayu di Pulau Lombok cukup melimpah," kata Lasiran, General Manager PLN Unit Induk Wilayah NTB, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/2/2021).
Lasiran menjelaskan, pengembangan energi biomassa merupakan salah satu komitmen PLN mengurangi emisi dan meningkatkan peran Energi Baru Terbarukan (EBT).
Serta mewujudkan energi bersih dan ramah lingkungan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Salah satunya dengan memperbanyak mekanisme co-firing di PLTU.
• Korban Banjir Desa Buwun Mas Lombok Barat Masih Butuh Air Bersih
“Sebelumnya kami telah menggunakan pelet yang berasal dari sampah," katanya.
Sejak Desember 2020, pelet masuk dalam tahap komersil.
Sekarang ditambah dua sumber energi lain, yaitu sekam dan juga serbuk kayu.
Sekam padi merupakan lapisan paling luar dari padi atau sering disebut kulit padi.
Sekam yang digunakan dalam proses co firing di PLTU Jeranjang sendiri diambil dari salah satu pabrik penggilingan padi yang di Kecamatan Kediri, Lombok Barat.
Dari 50 ton beras yang digiling mampu menghasilkan 20 ton sekam.
Selama ini, sekam dimanfaatkan untuk membakar batu bata merah dan juga penghangat kandang ayam.
Untuk serbuk kayu, dihasilkan dari penggergajian kayu yang berada di Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Lombok Barat.
Serbuk kayu dikumpulkan dari beberapa lokasi di Lombok.
Selanjutnya dikirim ke PLTU Jeranjang setelah melalui tahap pengeringan terlebih dahulu.
Selama ini, serbuk kayu digunakan dalam budidaya jamur tiram dan telah dikirim hingga ke Bali.
Supaya dapat beroperasi optimal, satu unit PLTU dapat menggunakan 3 persen biomassa dari total kapasitas batu bara di tiap unitnya.
• Depresi Ditinggal Istri Jadi TKI, Pria Lombok Tengah Gantung Diri di Rumahnya
• BNN Sebut Lombok Timur Sarang Bandar dan Pengedar Narkoba di NTB
"Jadi, biomassa yang diperlukan adalah 15 ton per hari untuk satu unit PLTU”, ujar Lasiran.
Saat ini, total energi biomassa yang digunakan mencapai 30 ton per hari untuk dua unit PLTU yang beroperasi di Jeranjang, Lombok Barat.
Penggunaanya pun dapat dimanfaatkan secara bersamaan dalam proses co firing, antara pelet, sekam, dan serbuk kayu.
Selama tidak melebihi dari 15 ton per hari tidak masalah.
Sejak tahun lalu, PLN NTB telah mengembangkan pembuatan pelet dari sampah melalui MoU dengan Pemerintah Provinsi NTB, Februari 2020.
Sampah dari TPA Kebun Kongok diolah melalui beberapa proses sampai menjadi pelet.
Kemudian digunakan dalam proses co firing di PLTU Jeranjang.
“Biomassa adalah salah satu EBT yang diolah dalam bentuk limbah," kata Lasiran.
Selain berdampak positif terhadap lingkungan, hal ini juga akan sejalan dengan target 23 persen energi terbarukan dalam bauran energi pada tahun 2025.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/energi-alternatif-sekam-dan-serbuk-kayu-dimanfaatkan-pln-ntb-dfgfg.jpg)