NTB
Lotim Bergerak! Program Desa Berdaya Siap Ubah Wajah Ekonomi Warga
TRIBUNLOMBOK.COM, SELONG — Program Desa Berdaya di Kabupaten Lombok Timur resmi memasuki tahap awal intervensi.
Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Ekonomi, Pembangunan, Sosial, dan Kemasyarakatan, Dr. H. Yusron Hadi, S.T., M.UM, turun langsung mengunjungi tiga desa di wilayah tersebut, yakni Desa Tete Batu, Desa Kembang Kuning, dan Desa Lendang Nangka Utara, pada Selasa (20/1/2026).
Kunjungan ini bertujuan memastikan kesiapan lapangan serta memverifikasi langsung kondisi masyarakat yang masuk dalam kategori miskin ekstrem.
Yusron menyampaikan bahwa tahap awal ini sangat krusial, yang dimulai dengan verifikasi faktual untuk menyesuaikan data Badan Pusat Statistik (BPS) dengan realitas di lapangan.
“Alhamdulillah, hari ini kami mengunjungi tiga desa di Lombok Timur. Kami bertemu langsung dengan aparat desa, tim pendamping, hingga masyarakat. Proses awal sudah dimulai dengan verifikasi data, yang kemudian akan dilanjutkan dengan intervensi program yang menyasar potensi masyarakat secara langsung,” jelas Yusron.
Lebih lanjut, Yusron menegaskan bahwa pendekatan Desa Berdaya tidak hanya sekadar pendataan, melainkan upaya pengembangan potensi lokal agar warga memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Baca juga: Sinkronisasi Desa Berdaya, Gubernur NTB Sambut Program Profesor Berdampak Unram
Dukungan Pemerintah Desa
Antusiasme besar datang dari tingkat desa. Sekretaris Desa Lendang Nangka Utara, Hendra Saputra, S.Pd., menyatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi intensif kepada seluruh kepala dusun dan masyarakat mengenai program ini.
“Kami sangat antusias. Harapan kami, masyarakat yang masuk dalam data kemiskinan ekstrem bisa segera keluar dari kondisi tersebut, sejalan dengan visi Gubernur NTB, Makmur Mendunia. Kami juga berharap program ini berkelanjutan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ungkap Hendra.
Potensi Olahan Nanas Jadi Unggulan
Di sisi teknis, pendamping Desa Lendang Nangka Utara, Iliadi, menjelaskan bahwa verifikasi faktual berjalan beriringan dengan pemetaan potensi desa. Salah satu komoditas yang menjadi sorotan utama di wilayah tersebut adalah nanas.
“Kami memetakan potensi kuat pada olahan dodol nanas dan pemanfaatan serat nanas. Kenapa nanas? Karena pasarnya sudah jelas, bahkan bisa diintervensikan ke program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, seratnya bisa dikembangkan menjadi produk tenun,” urai Iliadi.
Saat ini, satu pendamping desa membina sekitar 53 Kepala Keluarga (KK). Dengan dukungan penuh dari pemerintah desa, tim pendamping optimis terhadap target jangka panjang program ini.
“Harapan kami, dalam dua tahun ke depan, sekitar 1.200 KK yang masuk kategori kemiskinan ekstrem di Desa Lendang Nangka Utara bisa benar-benar keluar dari data kemiskinan tersebut,” pungkasnya.
Melalui sinergi kuat antara pemerintah provinsi, desa, dan tim pendamping, Program Desa Berdaya diharapkan menjadi mesin penggerak ekonomi yang nyata bagi masyarakat di Lombok Timur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Sahli-Yusron.jpg)