NTB
Satgas MBG NTB Pastikan Program Tetap Berjalan Selama Libur Sekolah
Penulis: Robby Firmansyah | Editor: Wahyu Widiyantoro
Ringkasan Berita:
- Selama masa libur sekolah, sasaran Program MBG di NTB tidak berubah dan tetap mencakup siswa dan santri serta kelompok 3B.
- Sistem distribusi MBG disesuaikan dengan kalender pendidikan.
TRIBUNLOMBOK.COM - Satuan Tugas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan bahwa program tetap berjalan selama libur sekolah akhir tahun 2025.
Hal ini sesuai dengan Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional RI, Nomor 52.1 Tahun 2025, tertanggal 18 Juni 2025, tentang Pedoman tata kelola penyelenggaraan program makan bergizi Gratis Selama Libur Sekolah, dengan pola dan mekanisme yang telah diatur secara nasional serta disesuaikan dengan kondisi daerah.
Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Ahsanul Khalik menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk kehadiran negara yang konsisten dalam menjamin pemenuhan gizi anak dan kelompok rentan, sekaligus menjawab kekhawatiran publik terkait keberlanjutan layanan selama libur sekolah.
“Kami ingin menegaskan kepada masyarakat NTB bahwa libur sekolah tidak berarti layanan gizi berhenti. Program MBG tetap berjalan dengan tata kelola yang jelas, anggaran yang akuntabel, dan pengawasan yang ketat,” tegas Aka, sapaan karibnya, dalam keterangan tertulis, Kamis (18/12/2025).
Baca juga: Momen MBG di Desa Perigi Lombok Timur Didistribusikan Pakai Tali karena Jembatan Ambruk
Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial Kemasyarakatan ini memaparkan bahwa selama masa libur sekolah, sasaran Program MBG di NTB tidak berubah.
Yakni tetap mencakup siswa dan santri seluruh jenjang pendidikan, serta Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita (Kelompok 3B).
Kelompok 3B di NTB menjadi prioritas utama layanan dan tetap dilayani secara rutin enam hari dalam seminggu (Senin–Sabtu) melalui Satuan Pelaksana Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di kabupaten dan kota.
Penyesuaian Sistem Distribusi
Sistem distribusi disesuaikan dengan kalender pendidikan.
Untuk siswa dan santri, distribusi MBG selama libur sekolah mengikuti kalender pendidikan resmi yang berlaku di NTB.
Di sekolah atau pesantren yang tetap beraktivitas di hari libur, layanan MBG tetap diberikan.
Sementara pada sekolah yang tidak beraktivitas, SPPG akan memfokuskan pelayanan kepada Kelompok 3B.
"Paket MBG juga harus dipastikan aman, bergizi, dan terukur," tegasnya.
Paket Penyaluran
Selama libur sekolah, MBG disalurkan dalam paket kombinasi, terdiri dari:
- Paket MBG siap santap, yang dimasak di dapur SPPG dan dikonsumsi bersama, serta
- Paket MBG kemasan, yang dibawa pulang dan dirancang aman, praktis, serta memenuhi prinsip gizi seimbang.
Dalam satu siklus distribusi, penerima manfaat dapat memperoleh satu paket siap santap dan dua paket kemasan untuk kebutuhan hingga dua hari ke depan.
Isi paket kemasan meliputi bahan pangan bergizi seperti roti, telur, susu, dan buah, disesuaikan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) berdasarkan usia penerima.
Demikian juga dengan mekanisme distribusi akan dijaga ketat, dalam hal ini distribusi MBG selama libur sekolah di NTB dilakukan maksimal dua kali dalam seminggu, dengan pola terjadwal untuk menjaga kualitas layanan, efisiensi operasional, dan keamanan pangan.
Untuk ketertiban distribusi, digunakan:
Ompreng untuk makanan siap santap, dank
Kantong totebag untuk paket kemasan.
Setiap penerima manfaat disiapkan dua totebag dengan warna berbeda, ditambah cadangan 10 persen oleh SPPG.
Sistem ini diterapkan untuk memudahkan pengawasan, penukaran kemasan, serta melatih kedisiplinan penerima manfaat, khususnya siswa dan santri di NTB.
Anggaran Tidak Berkurang
Aka menegaskan bahwa selama libur sekolah, alokasi anggaran MBG tetap menggunakan skema Rp15.000 per porsi per penerima manfaat, yang dialokasikan secara proporsional untuk:
- biaya bahan baku (at cost),
- biaya operasional minimum, dan
- biaya sewa berdasarkan rata-rata kapasitas operasional SPPG.
“Tidak ada pengurangan kualitas layanan maupun hak penerima manfaat selama libur sekolah. Semua tetap berjalan sesuai pedoman,” ujarnya.
Demikian juga halnya dengan relawan tetap bekerja dan dihargai, selama masa libur sekolah, relawan SPPG di NTB tetap bekerja secara optimal.
Mulai dari distribusi MBG, pembersihan dapur, hingga mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas.
Honor relawan tetap dibayarkan penuh, sama seperti hari operasional normal, sesuai pedoman yang ditetapkan Badan Gizi Nasional.
Dia mengajak seluruh masyarakat, orang tua, dan pemangku kepentingan untuk tidak ragu dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak utuh, serta bersama-sama mengawal pelaksanaan Program MBG agar berjalan tertib, aman, dan tepat sasaran.
“Program MBG adalah ikhtiar kemanusiaan dan investasi masa depan. Di NTB, kami pastikan pelaksanaannya tetap berjalan, transparan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat,” tutup pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/siswa-smp-mataram-makan-bergizi-mbgjpg.jpg)