NTB
Politikus dan Fenomena Viral di TikTok
Penulis: Arlin Herlin, Mahasiswa UIN Mataram Prodi KPI
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Di era digital saat ini, banyak politikus yang membangun personal branding dengan menunjukkan sisi humorisnya. Contohnya, video Prabowo yang berjoget saat Pemilu dengan tagar ‘gemoy’, atau Anies Baswedan yang menggunakan fotonya sendiri untuk membuat meme lucu.
Bahkan akun partai seperti Gerindra membalas komentar warganet dengan cara yang nyeleneh, menarik perhatian publik, terutama generasi muda. Fenomena ini terbukti efektif. Pada Pemilu Prabowo-Gibran, pendekatan yang dekat dengan Gen Z terbukti berhasil menarik minat pemilih muda.
Tidak hanya itu, Anies Baswedan dan partai Gerindra juga berhasil mendekatkan diri dengan masyarakat melalui konten humor yang mudah diterima.
Dalam jurnal yang berjudul “Strategi Penggunaan Content Marketing Pada Pengguna TikTok dan Instagram Berdasarkan Audience Behaviour di Perusahaan X” (2024), Asy’Ari dan Hasyim menyebutkan bahwa TikTok didominasi oleh Gen Z sekitar 25 persen. Dominasi ini membuat konten politikus yang lucu cepat viral, karena Gen Z dikenal santai dan menyukai konten humoris. Keunikan lain adalah, audiens merasa menemukan sisi baru dari politikus yang biasanya menjaga citra serius bahwa mereka ternyata juga bisa melucu.
Mengapa humor efektif? Dari fenomena di TikTok, terlihat bahwa humor lebih mudah diterima dibandingkan citra politikus yang terlalu serius. Humor membuat politikus terlihat santai, mudah diingat, cepat viral, dan mampu menciptakan kedekatan dengan audiens. Konten lucu juga lebih mudah diterima publik dibandingkan konten politik formal seperti penanganan bencana atau kebijakan publik.
Baca juga: LPS Goes to Campus di UIN Mataram, Edukasi Pentingnya Penjaminan Simpanan
Namun, humor tidak boleh menggantikan tanggung jawab dan integritas politikus. Melucu sah-sah saja, tetapi politikus tetap harus menjaga citra profesional agar tidak hanya dianggap hiburan semata. Salah langkah, apalagi di era media sosial, bisa mencoreng nama baik mereka.
Membuat konten lucu di TikTok memang efektif untuk membangun personal branding, menarik perhatian audiens, dan mempererat hubungan politikus dengan publik. Namun, ada potensi risiko: konten humor bisa menjadi pengalihan isu penting.
Audiens bisa lebih fokus pada kelucuan daripada kualitas kepemimpinan politikus. Penilaian terhadap kemampuan politikus pun bisa menjadi kurang objektif karena lebih menitikberatkan pada seberapa lucu mereka tampil, bukan seberapa mampu mereka memimpin.
Kita sebagai audiens perlu menanggapi fenomena ini dengan bijak: tetap kritis terhadap isu politik, menyadari kapan harus serius, dan kapan humor bisa diterima. Melalui pendekatan yang seimbang, politikus dapat menggunakan humor untuk mendekatkan diri dengan publik, tanpa mengorbankan kualitas dan tanggung jawab mereka sebagai pemimpin.
Fenomena politikus lucu di TikTok menunjukkan bagaimana media sosial mengubah cara publik menilai figur politik. Humor menjadi strategi komunikasi yang efektif, tetapi esensi kepemimpinan tetap harus menjadi fokus utama. Politik boleh lucu, tapi tanggung jawab tidak boleh tertinggal.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/OPINI-ARLIN-12.jpg)