NTB

Bupati Sumbawa Minta Batas Lahan Penghijauan dan Tanaman Jagung Diperjelas

ISTIMEWA
BATAS LAHAN - Pemkab Sumbawa rapat koordinasi terkait pengelolaan hutan kayu dan lahan garapan, dengan PT Esa Sampoerna Agro, Jumat (10/10/2025). Dipaparkan hasil tinjauan lapangan yang menunjukkan sekitar 1.428 hektare lahan yang akan digarap perusahaan PT Esa Sampoerna Agro. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, SUMBAWA  -  Pemkab Sumbawa rapat koordinasi terkait pengelolaan hutan kayu dan lahan garapan, dengan PT Esa Sampoerna Agro.

Rapat dihadiri jajaran Forkopimda, pimpinan OPD terkait, perwakilan PT Esa Sampoerna Agro, serta para pengusaha kayu hutan. 

Dalam pertemuan itu, dibahas secara mendalam kondisi lahan masyarakat dan batas wilayah pengelolaan antara PT Esa Sampoerna Agro dan warga penggarap di sejumlah kecamatan, termasuk Moyo Hilir, Moyo Utara, Lopok, Lape.

Perwakilan dari Bidang Pertanahan Dinas PRKP Kabupaten Sumbawa memaparkan hasil tinjauan lapangan yang menunjukkan sekitar 1.428 hektare lahan dalam data sudah kosong.

Namun di lapangan sebagian besar telah dikuasai masyarakat, dengan sekitar 594 hektare di antaranya digarap 247 orang petani. 

Ditemukan pula indikasi sebagian data lahan belum sepenuhnya terbuka, sehingga perlu verifikasi lebih lanjut.

Baca juga: Komisi III DPRD KSB Tanggapi Keluhan Petani Jagung yang Diduga Belum Dibayar Bulog 

Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot menegaskan perlunya kejelasan batas dan kepastian pengelolaan agar tidak menimbulkan konflik di lapangan. 

"Mulai hari ini, saya minta camat dan bidang pertanahan membuat rencana kerja yang jelas. Lahan seluas 1.400 hektare yang berada di Desa Olat Rawa Kecamatan Moyo Hilir ini harus segera dipatok batasnya. Kita sudah masuk musim tanam, jadi jangan tunda lagi," tegasnya pada Jumat (10/10/2025).

Ia menekankan bahwa pemerintah hanya berperan sebagai fasilitator sementara aktivitas utama harus dilakukan pihak PT Esa Sampoerna Agro.

"Kami sebagai pemerintah membantu semaksimal mungkin, tapi yang aktif harus PT Esa Sampoerna Agro. Saya ingin setiap hari ada kegiatan di lapangan. Kalau dalam waktu dekat tidak ada progres, kerja sama ini bisa dibatalkan,” ujar Jarot.

Jarot juga menegaskan pentingnya kemitraan yang sehat dengan masyarakat agar bisa berkomunikasi dengan baik.

“Semua harus disepakati secara terbuka. Apakah mau menanam jagung atau pohon, bicarakan dengan masyarakat. Jangan ada yang merasa dirugikan,” tambahnya.

Jarot menegaskan kembali agar semua pihak bekerja cepat dan transparan. 

"Mulai besok harus sudah ada patok batas. Bulan Oktober ini petani sudah harus menanam, baik pohon maupun jagung. PT Esa Sampoerna Agro juga saya minta harus selalu ada di sini untuk mengawasi agar program ini berjalan efektif," pungkasnya.

PT Esa Sampoerna Agro telah menyiapkan program penanaman jagung serta penghijauan seluas 600 hektare. 

(*)