NTB
Dikes NTB Dalami Kasus Keracunan MBG di SDN 1 Selat Narmada Lombok Barat
Penulis: Ahmad Wawan Sugandika | Editor: Idham Khalid
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) turun langsung untuk mendalami kasus dugaan keracunan Murid SDN 1 Selat Narmada, Kabupaten Lombok Barat setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Saat ini, terdapat 17 siswa yng masih menjalani perawatan di Puskesmas Suranadi, usai mengalami mual dan sakit perut usai menyantap MBG.
“Kita turun untuk melakukan pemeriksaan kasus keluhan kesehatan (mual, sakit perut, pusing) yang dialami siswa setelah kegiatan makan bergizi di SDN 1 Selat ini pada beberapa waktu lalu,” ucap Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dikes NTB, Badarudin saat ditemui Tribun Lombok, Kamis (4/9/2025).
Pihaknya juga turun bersama dengan tim dari Puskesmas Suranadi dan Dikes Lombok Barat untuk mengumpulkan fakta dibalik keracunan belasan murid SD ini.
Badarudin mengungkapkan, belasan anak yang diduga menjadi korban MBG ini sudah diberikan penanganan oleh Puskesmas.
Di mana gejala yang diderita memang lebih mengindikasikan pada keracunan makanan, seperti diantaranya sakit perut dan pusing.
Meski demikian, saat ini, sebagian besar dari siswa yang diduga keracunan MBG juga sudah diperbolehkan pulang setelah sebelumnya tim melakukan observasi dan pelayanan medis.
Pihak Dikes NTB juga masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebagai dasar pihaknya bisa menetapkan penyebab dugaan keracunan yang dialami murid SD 1 Selat ini.
“Untuk penentuan penyebab (dugaan keracunan MBG) ini kita masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh Badan POM Mataram. Karena kita juga tidak bisa langsung MBG adalah penyebab utama tanpa hasil laboratorium,” sebutnya.
Pengumpulan data dan wawancara juga dilakukan terhadap guru untuk mendapatkan informasi detail terkait kejadian, sebagai bahan analisa dan rekomendasi.
“Rekomendasi dan kesimpulan akhir akan diberikan setelah hasil laboratorium keluar dan analisa penyebab selesai dilakukan,” imbuhnya.
Baca juga: Sampel Menu MBG SDN 1 Selat Dibawa ke BPOM untuk Diperiksa
Dia juga masih mendalami faktor lain yang bisa dipertimbangkan. Di mana selain makanan, faktor lain seperti kondisi kesehatan siswa sebelum makan dan kebiasaan cuci tangan juga menjadi pertimbangan.
“Ada kemungkinan keluhan sudah ada sebelum kegiatan makan MBG di sekolah,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya juga turun melakukan pendalaman kasus, hingga memberikan sosialisasi tentang penguatan edukasi cuci tangan.
“Tim menekankan pentingnya cuci tangan dengan sabun di air mengalir sebelum makan. Edukasi ini diperkuat kepada guru dan siswa agar menjadi budaya dan mencegah kejadian serupa di masa depan,” pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/KERACUNAN-MBG-0986.jpg)