NTB

Membaca Lompatan Ekonomi NTB dalam Setahun: Dari Minus ke Dua Digit

TRIBUNLOMBOK.COM
Dr. Iwan Harsono, SE., M.Ec - Penulis merupakan Associate Professor dan Dosen Pascasarjana Universitas Mataram. Gambar ini telah diedit menggunakan AI. 

Oleh: Assoc. Prof Iwan Harsono, SE., M.Ec
Dosen Pascasarjana Universitas Mataram


Berdasarkan release resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat tanggal 6 Mei 2026, perekonomian NTB pada Triwulan I-2026 tumbuh sebesar 13,64 persen secara tahunan (year on year/y-on-y), meskipun secara triwulanan (quarter to quarter/q-to-q) masih mengalami kontraksi sebesar 1,30 persen. 

Angka ini menjadi perhatian penting karena menunjukkan lompatan besar dibanding kondisi ekonomi NTB pada Triwulan I-2025 yang saat itu masih mengalami kontraksi minus 1,47 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut juga menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua secara nasional setelah Maluku Utara dan jauh di atas rata-rata nasional. Bahkan lebih dari dua kali lipat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat sebesar 5,61 persen. 

Lompatan besar pertumbuhan ekonomi NTB ini terutama didorong oleh industri pengolahan smelter serta lonjakan ekspor barang dan jasa.
 
Mengawali artikel ini, perlu saya tegaskan bahwa apresiasi terhadap pertumbuhan ekonomi NTB Triwulan I-2026 tidak bertentangan dengan kritik saya sebelumnya terhadap capaian pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2025 yang secara kumulatif tahunan (c-to-c) hanya tumbuh 3,22 persen. 

Kedua analisis tersebut menggunakan pendekatan statistik yang berbeda. Tulisan sebelumnya membaca kinerja ekonomi Januari–Desember 2025 secara kumulatif tahunan, sedangkan artikel ini membandingkan Triwulan I-2026 terhadap Triwulan I-2025 secara tahunan (y-on-y).

Karena itu, secara objektif memang terlihat adanya perbaikan ekonomi yang cukup signifikan dibanding titik tekanan ekonomi pada awal 2025.

Dari Tekanan Menuju Titik Balik Ekonomi NTB

Mengapa ekonomi Nusa Tenggara Barat mampu melompat dari kontraksi minus 1,47 persen pada Triwulan I-2025 menjadi tumbuh 13,64 persen pada Triwulan I-2026?

Pertanyaan itu penting dijawab secara objektif karena perubahan tersebut bukan sekadar fluktuasi statistik biasa, melainkan menunjukkan adanya perubahan besar pada mesin penggerak ekonomi NTB dalam satu tahun terakhir.

Data BPS NTB menunjukkan bahwa pada Triwulan I-2025 ekonomi daerah ini masih mengalami kontraksi minus 1,47 persen secara tahunan dan minus 2,32 persen secara triwulanan. Namun setahun kemudian, Triwulan I-2026, ekonomi NTB tumbuh sangat tinggi sebesar 13,64 persen meskipun secara q-to-q masih terkoreksi minus 1,30 persen.
 
Menurut saya, perubahan arah ekonomi ini memperlihatkan bahwa NTB mulai keluar dari tekanan yang terjadi pada awal 2025. Jika tahun lalu ekonomi tertahan oleh lemahnya ekspor dan turunnya aktivitas pertambangan, maka tahun ini sektor-sektor utama mulai bergerak kembali.

Perubahan terbesar ekonomi NTB dalam satu tahun terakhir terjadi pada sektor pertambangan dan industri pengolahan.

Baca juga: Ekonomi NTB Melonjak: Ekspor dan Kunjungan Wisatawan Meningkat

Pada Triwulan I-2025, sektor pertambangan justru menjadi sumber kontraksi terdalam ekonomi NTB akibat belum optimalnya ekspor konsentrat tambang. BPS mencatat sektor pertambangan menjadi sumber kontraksi sebesar minus 6,10 persen terhadap pertumbuhan ekonomi NTB. 

Namun situasinya berubah drastis pada Triwulan I-2026. Aktivitas smelter mulai berjalan lebih stabil dan relaksasi ekspor mulai mendorong peningkatan produksi konsentrat.

Data BPS menunjukkan industri pengolahan tumbuh sangat tinggi sebesar 60,25 persen, sedangkan sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 31,80 persen. 

Bahkan pertambangan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi ekonomi NTB sebesar 4,56 persen. Artinya, sektor yang tahun lalu menjadi beban ekonomi kini justru berubah menjadi motor pertumbuhan.

Menurut saya, kondisi ini menunjukkan mulai bekerjanya proses hilirisasi ekonomi daerah. Ketika smelter mulai menghasilkan nilai tambah di dalam daerah, maka dampaknya tidak hanya dirasakan sektor industri, tetapi juga perdagangan, jasa, transportasi, hingga tenaga kerja.

Saya melihat NTB perlahan mulai bergerak dari ekonomi berbasis bahan mentah menuju ekonomi berbasis nilai tambah. Ini penting karena selama bertahun-tahun struktur ekonomi NTB terlalu sensitif terhadap naik turunnya ekspor komoditas mentah.

Pertanian Jadi Fondasi Ekonomi NTB

Meski pertambangan dan industri pengolahan tumbuh tinggi, ekonomi NTB tidak hanya ditopang sektor tambang. Sektor pertanian tetap menjadi fondasi utama ekonomi masyarakat.

Produksi padi pada Triwulan I-2026 diperkirakan mencapai 577,24 ribu ton GKG, meningkat signifikan dibanding Triwulan I-2025 yang sebesar 313,58 ribu ton GKG. Peningkatan ini dipicu panen raya pada Maret 2026. 

Dampaknya, sektor pertanian tumbuh 9,91 persen secara tahunan.
Bagi daerah seperti NTB, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi biasa. Ketika panen membaik, maka konsumsi rumah tangga desa meningkat, perdagangan lokal bergerak, dan daya beli masyarakat ikut terjaga.

Karena itu saya melihat positif ketika pertumbuhan industri berjalan beriringan dengan pertumbuhan pertanian. Ini penting agar manfaat pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di sektor modern, tetapi juga dirasakan masyarakat luas.

Selain pertanian dan industri, sektor jasa NTB juga mulai menunjukkan pemulihan yang cukup kuat.

Jumlah tamu hotel pada Triwulan I-2026 mencapai 607 ribu orang atau meningkat 27,32 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah penumpang angkutan udara juga meningkat 21,28 persen menjadi 310.499 orang. 

Data ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat mulai bergerak lebih luas. Hotel mulai ramai, transportasi meningkat, dan perdagangan ikut terdorong.

Kondisi tersebut penting karena struktur ekonomi NTB tidak bisa hanya bergantung pada pertambangan semata. Pariwisata, perdagangan, dan jasa tetap harus menjadi penopang utama ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Menurut saya, pertumbuhan ekonomi yang sehat tidak hanya lahir dari eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga dari meningkatnya mobilitas ekonomi masyarakat dan tumbuhnya aktivitas jasa.

Ketika hotel mulai ramai, transportasi meningkat, dan perdagangan kembali hidup, maka itu biasanya menjadi tanda bahwa denyut ekonomi masyarakat mulai bergerak kembali.

Optimisme Baru NTB

Perubahan paling dramatis ekonomi NTB sebenarnya terlihat dari sisi ekspor. Pada Triwulan I-2025, ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi sangat dalam sebesar minus 41,05 persen dan menjadi sumber kontraksi terbesar ekonomi NTB.
 
Tetapi pada Triwulan I-2026, ekspor barang dan jasa melonjak hingga 91,87 persen. Nilai ekspor luar negeri NTB meningkat tajam dari 17,45 juta dollar AS menjadi 707,92 juta dollar AS. 

Lonjakan ekspor ini terutama didorong meningkatnya ekspor hasil smelter dan konsentrat tambang.

Dari sisi konsumsi, kondisi ekonomi masyarakat juga relatif terjaga. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,15 persen, sementara konsumsi pemerintah tumbuh 7,29 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) NTB Februari 2026 turun menjadi 2,99 persen dengan jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 3,14 juta orang. 

Artinya, pertumbuhan ekonomi yang terjadi mulai menghasilkan dampak nyata terhadap lapangan kerja dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Tentu saja kita tetap harus objektif. Sebagian pertumbuhan tinggi NTB dipengaruhi basis pembanding tahun sebelumnya yang rendah akibat kontraksi pertambangan pada 2025. 

Karena itu, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pertumbuhan ekonomi ini tetap berkelanjutan dan lebih inklusif.

Namun satu hal yang sulit dibantah: dibandingkan kondisi setahun lalu, ekonomi NTB hari ini memang menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. 

Dari kontraksi menjadi pertumbuhan dua digit. Dari ekspor yang tertekan menjadi ekspor yang melonjak. Dan dari perlambatan menuju optimisme baru ekonomi NTB.