NTB Masuk 10 Prioritas Percepatan Tanam Nasional Padi
Kementan menempatkan NTB dalam daftar 10 provinsi prioritas percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi periode Juni hingga September 2026
Ringkasan Berita:
- Kementan menempatkan NTB dalam daftar 10 provinsi prioritas percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi periode Juni hingga September 2026.
- NTB adalah salah satu lumbung pangan nasional khususnya untuk komoditas jagung dan padi yang kontribusinya terhadap stok beras nasional cukup signifikan.
TRIBUNLOMBOK.COM - Nusa Tenggara Barat (NTB) berpacu dengan waktu dalam upaya mempertahankan capaian produksi padi sebelum puncak kemarau Agustus 2026 menutup waktu tanam yang tersisa.
Kementerian Pertanian (Kementan) menempatkan NTB dalam daftar 10 provinsi prioritas percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi periode Juni hingga September 2026 bersama Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Banten, dan Kalimantan Selatan.
Inspektur Jenderal Kementan yang juga Pelaksana Harian Dirjen Tanaman Pangan, Irham Warohian, menegaskan bahwa percepatan tanam sebagai langkah strategis.
"Peningkatan luas tambah tanam harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Dengan langkah percepatan tanam yang tepat, kita optimistis produksi padi tetap terjaga sehingga kebutuhan pangan masyarakat dapat terpenuhi," ujar Irham dalam Rapat Percepatan LTT Padi di Jakarta, Senin (8/6/2026) dikutip dari laman resmi Kementan.
Baca juga: Strategi Pemprov NTB Amankan Produksi Padi di Tengah Ancaman El Nino
Mengapa NTB Masuk Prioritas?
NTB adalah salah satu lumbung pangan nasional khususnya untuk komoditas jagung dan padi yang kontribusinya terhadap stok beras nasional cukup signifikan.
Kementan memetakan strategi pengamanan produksi menghadapi kemarau.
BMKG sudah memperingatkan bahwa puncak kemarau akan tiba pada Agustus dengan ancaman El Nino yang berpotensi membuat musim ini lebih panjang dan lebih kering dari rata-rata normal.
Bagi petani padi yang mengandalkan air irigasi dari embung, saluran, atau curah hujan, semakin lama menunda tanam berarti semakin besar risiko gagal panen karena kehabisan air di fase pertumbuhan kritis.
Untuk mendukung percepatan tanam di NTB dan provinsi prioritas lainnya, Kementan mendorong petani menggunakan padi genjah dan toleran kekeringan varietas yang siklus tanamnya lebih pendek namun tetap produktif di kondisi terbatas air.
Beberapa pilihan yang direkomendasikan antara lain Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, dan Cakrabuana, disesuaikan dengan kondisi agroekosistem masing-masing lokasi.
Di bidang infrastruktur air, Kementan mengoptimalkan berbagai sumber air alternatif rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung yang ada, sumur dangkal, pompanisasi, dan perpipaan.
Percepatan distribusi pupuk bersubsidi juga menjadi bagian dari strategi untuk memastikan pupuk sampai ke tangan petani tepat waktu, bukan setelah musim tanam lewat.
Kementan memperkuat koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai, TNI, Perum Bulog, PT Pupuk Indonesia, hingga penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang menjadi ujung tombak pendampingan petani di tingkat desa.
"Percepatan tanam adalah kunci menjaga kesinambungan produksi. Dengan kerja sama seluruh pihak, kita harus memastikan tidak ada lahan potensial yang menganggur dan setiap peluang tanam dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan pangan nasional," tegas Irham.
(*)
| Buka PIFKI 2026, Pemprov NTB Dorong Transformasi Kesehatan Digital Berbasis Kearifan Lokal |
|
|---|
| Pemprov NTB Hapus Denda PKB dan Putihkan Tunggakan di Atas Lima Tahun |
|
|---|
| MTQ XXXI di Praya: Meneguhkan Langkah NTB Menuju Serambi Al-Qur’an |
|
|---|
| YBM PLN UP3 Bima Salurkan Bantuan Modal Usaha bagi 14 Pelaku UMKM di Kota Bima |
|
|---|
| Penyisihan Rampung, MTQ XXXI NTB Siap Memasuki Babak Final |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Warga-memupuk-tanaman-padi-di-sawah-miliknya.jpg)