Selasa, 2 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Cuaca NTB

Suhu Dingin di NTB Berpotensi Berlangsung hingga Agustus, Sembalun Capai 8 Derajat Celsius

BMKG menyebut suhu dingin di NTB masih berpotensi berlangsung hingga Juli–Agustus 2026, dengan suhu terendah 8 derajat celcius di Sembalun

Tayang:
Editor: Idham Khalid
TRIBUNLOMBOK.COM/TRIBUNLOMBOK.COM
CUACA BERAWAN - Penampakan cuaca berawan di Kecamatan Labuapi, Lombok Barat, Senin (2/2/2026). BMKG menyebut suhu dingin di NTB masih berpotensi berlangsung hingga Juli-Agustus 2026, dengan suhu terendah 8 derajat celcius di Sembalun 
Ringkasan Berita:
  • BMKG menyebut suhu dingin di NTB masih berpotensi berlangsung hingga Juli–Agustus 2026, dengan suhu terendah 8 derajat celcius di Sembalun.

  • Kondisi dipengaruhi monsun Australia, minimnya awan, serta rendahnya kelembapan udara yang membuat panas cepat hilang pada malam hari.

 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena suhu udara dingin yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berpotensi berlangsung hingga Juli atau Agustus 2026.

Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer, termasuk penguatan dan pelemahan angin monsun Australia.

BMKG mencatat suhu terendah terjadi di wilayah Sembalun, Lombok Timur, pada 31 Mei 2026 pukul 06.30 Wita, yang mencapai sekitar 8 derajat Celsius.

Sementara itu, suhu di wilayah lain di NTB terpantau berkisar antara 17,9 hingga 21,5 derajat Celsius.

Forecaster BMKG Bandara Internasional Lombok (BIL), Aprilia Mustika, menjelaskan bahwa kondisi suhu dingin di malam hingga pagi hari merupakan fenomena yang umum terjadi saat memasuki periode musim kemarau atau peralihan menuju musim kemarau.

Menurutnya, minimnya tutupan awan pada siang hingga sore hari membuat panas yang diterima permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari.

“Minimnya tutupan awan di siang atau sore hari menyebabkan panas yang diserap bumi pada siang hari akan lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer dengan sangat cepat (radiasi balik) tanpa adanya penghalang yaitu awan,” ujar Aprilia Mustika.

Baca juga: Legalitas Lahan Jadi Penghambat Pelestarian Bale Adat Sembalun Lombok Timur

Selain itu, kelembapan udara yang relatif rendah turut menyebabkan suhu lebih cepat turun pada malam hari. Kondisi tersebut membuat permukaan bumi tidak mampu mempertahankan panas setelah matahari terbenam.

“Kelembaban udara yang rendah menyebabkan permukaan bumi tidak bisa menahan panas lebih lama setelah matahari terbenam. Alhasil, udara dingin dari lapisan atmosfer atas lebih mudah turun ke permukaan,” katanya.

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah pergerakan angin musiman. Saat ini, wilayah NTB telah memasuki periode angin monsun Australia yang membawa massa udara kering dari Benua Australia ke wilayah Indonesia bagian selatan.

“Pergerakan angin di wilayah NTB sudah memasuki monsun Australia yang membawa massa udara bersifat kering, sehingga mendukung kondisi cuaca tersebut,” jelasnya.

BMKG juga menyebut, dalam beberapa hari ke depan suhu udara diperkirakan mengalami sedikit peningkatan. Hal ini disebabkan oleh melemahnya kecepatan angin sehingga pengaruh massa udara dingin dari Australia berkurang, serta meningkatnya kelembapan atmosfer yang mendukung pembentukan awan.

Keberadaan awan dan kelembapan yang lebih tinggi membuat panas lebih mudah tertahan di permukaan bumi. Namun demikian, kondisi dingin masih berpotensi kembali terjadi apabila angin monsun Australia kembali menguat.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved