PLN EPI Bangun Ekosistem Biomassa, Libatkan Desa hingga UMKM
PLN EPI kembangkan model biomassa terintegrasi berbasis fasilitas produksi dari hulu ke hilir.
Ringkasan Berita:
- PLN EPI kembangkan model biomassa terintegrasi berbasis fasilitas produksi dari hulu ke hilir.
- Program libatkan petani, BUMDes, dan UMKM serta tingkatkan nilai ekonomi residu.
TRIBUNLOMBOK.COM, JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menyiapkan model bisnis biomassa yang tidak berhenti di pembangkit. Perusahaan ini membangun strategi “fasilitas produksi” untuk menghubungkan lahan, residu, koperasi, BUMDes, dan UMKM dengan demand energi di pembangkit listrik.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir memaparkan strategi itu saat wawancara dengan Tribunnews di Kantor PLN EPI, Centennial Tower Lantai 8, Jakarta, pada 13 April 2026. Menurut dia, PLN EPI sengaja mengambil posisi di tengah agar pasokan biomassa tidak putus di hulu dan tidak kehilangan pasar di hilir.
“Kata kuncinya sebenarnya untuk membentuk ekosistem ini kita sebut namanya fasilitas produksi. Jadi PLN EPI tetap di tengah,” kata Hokkop. “Kita bikin fasilitas produksinya, baru kita bentuk demand-nya di pembangkit.”
Lewat model itu, bahan baku dari masyarakat tidak langsung dilepas ke pasar tanpa pengolahan. PLN EPI ingin memastikan hasil pertanian, perkebunan, dan kehutanan, termasuk residunya, bisa ditangkap, diolah, lalu dikirim ke pembangkit dengan spesifikasi yang dibutuhkan.
Hokkop mengatakan, skema ini juga dibangun agar nilai ekonomi tidak hanya berhenti pada komoditas utama. Saat petani menanam padi, jagung, tebu, atau sorgum, residu yang selama ini dibuang diupayakan ikut punya harga.
“Kalau bisa semua hasilnya bahkan sampai ke residunya itu memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.
Baca juga: PLN UIW NTB Perkuat Keandalan Listrik Pasca Idulfitri Lewat Program Liga Siekas di Praya
Ia menyontohkan sekam padi. Dalam pola yang sedang dijalankan, beras tetap masuk ke offtaker lokal, sementara sekam dibeli untuk diolah. PLN EPI bahkan menyebut sudah bekerja sama dengan badan milik daerah dan BUMDes untuk peletisasi sekam padi, yang kemudian dicampur dengan limbah kayu agar nilai kalorinya mendekati batubara peringkat rendah.
“Padi ini sekam padinya kami ambil, kami beli,” kata Hokkop. “Jadi intinya adalah semua hasil dari kerja sama dengan petani ini jadi memiliki nilai komersil.”
Dampaknya tak kecil bagi ekonomi lokal. Hokkop menyebut, bila batubara jutaan ton bisa selesai lewat satu kontrak besar, biomassa justru melibatkan lebih banyak pelaku. Untuk volume sekitar 2 juta ton, menurut hitungannya, bisa terlibat hampir 150 perusahaan atau peserta usaha di berbagai daerah.
PLN EPI juga menyebut telah menjajaki kerja sama dengan kementerian koperasi dan kementerian desa, serta membuka ruang untuk BUMDes dan Gapoktan menjadi pemasok. Dengan cara itu, biomassa tidak hanya dibaca sebagai program energi, tetapi juga sebagai rantai nilai baru bagi masyarakat desa yang selama ini berada di dekat sumber residu.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/ENERGI-BIOMASSA-2026.jpg)