Konflik Iran vs Amerika
Konflik Iran-AS Memanas, Pakar HI Unram Peringatkan Ancaman Krisis Energi Nasional
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi mengganggu jalur energi global, terutama Selat Hormuz yang dilalui pasokan minyak dunia.
Ringkasan Berita:
- Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi mengganggu jalur energi global, terutama Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20–30 persen pasokan minyak dunia.
- Bagi Indonesia, ancaman utamanya adalah ketahanan energi yang rentan, karena cadangan minyak nasional diperkirakan hanya cukup sekitar 20 hari, sehingga berpotensi memicu krisis energi dan tekanan ekonomi.
TRIBUNLOMBOK.COM – Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat kini menjadi sorotan tajam dunia internasional.
Ketegangan ini diprediksi akan membawa dampak sistemik terhadap sektor energi dan stabilitas ekonomi global, termasuk mengancam ketahanan energi nasional Indonesia.
Heavy Nala Estriani, dosen dan peneliti di Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Mataram, menyoroti posisi geopolitik Iran yang sangat krusial, terutama penguasaan mereka atas Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan urat nadi energi dunia yang dilewati oleh sekitar 20-30 persen pasokan minyak global.
Menurut Heavy, jika jalur strategis ini terganggu atau ditutup akibat perang, dunia akan menghadapi krisis minyak yang luar biasa. Ia juga melihat adanya keterkaitan konflik ini dengan persaingan kekuatan besar (great powers).
"Iran memegang posisi strategis terutama di Selat Hormuz. Ketika itu ditutup, dampaknya bukan hanya ke negara tetangga di Timur Tengah, tapi secara global," ujar Heavy Nala Estriani dalam Podcast Tribun Lombok, yang tayang Rabu (4/3/2026).
Bagi Indonesia, dampak dari konflik ini bukan sekadar isu melainkan ancaman nyata pada ketahanan energi domestik, terlebih saat ini Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia menyebut cadangan minyak Indonesia saat ini berada pada posisi yang rentan, yakni hanya diperkirakan cukup untuk 20 hari.
Baca juga: Konflik Iran vs AS dan Israel Memanas Usai Khamenei Tewas, Harga Minyak Dunia Melonjak
Jika eskalasi berlanjut dan memicu gangguan pasokan jangka panjang, Indonesia berisiko menghadapi krisis energi, kelangkaan BBM akibat terganggunya jalur distribusi internasional.
Kemudian lonjakan harga minyak mentah dunia akan memaksa penyesuaian harga di tingkat masyarakat.
Heavy mengingatkan bahwa situasi saat ini membawa ingatan pada krisis minyak besar tahun 1970-an dan 1980-an, di mana pasokan minyak digunakan sebagai instrumen protes politik yang mengguncang ekonomi dunia.
Di tengah panasnya situasi di Timur Tengah, Heavy Nala Estriani memberikan peringatan agar masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam polarisasi yang memecah belah bangsa.
Isu Timur Tengah di Indonesia sering kali menjadi sangat sensitif karena keterkaitan emosional dan agama.
Menurut Heavy, perbedaan identitas atau sektarian seperti pertentangan Sunni dan Syiah sering kali sengaja "digoreng" oleh pihak tertentu untuk memicu perpecahan di dalam negeri.
"Sangat penting untuk menyadari bahwa isu identitas ini sering dimainkan untuk memperparah konflik. Padahal, sering kali agama hanyalah alat kepentingan politik di baliknya. Jika kita paham ini adalah masalah geopolitik, kita bisa lebih objektif dan tidak mudah terprovokasi," jelasnya.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat akar masalah secara lebih luas dan historis.
Dengan memahami kompleksitas tersebut, masyarakat diharapkan tidak terjebak pada keberpihakan yang hanya didasari oleh sentimen agama atau kebencian terhadap negara tertentu.
| Ekonomi Indonesia Tetap Stabil di Tengah Gejolak Timur Tengah, Pertumbuhan Ditopang Sektor Konsumsi |
|
|---|
| TGB Bertemu Dubes Iran, Jadi Imam Salat dan Sampaikan Dukungan |
|
|---|
| Satu WNI NTB Terdampak Konflik Timur Tengah Dipulangkan |
|
|---|
| Timur Tengah Bergejolak, Pemprov NTB Pastikan Distribusi BBM Masih Normal |
|
|---|
| Pemprov NTB Memastikan 155 PMI dan 1.415 Orang Jemaah Umrah Aman |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Heavy-Nala-Estriani-Dosen-HI-Unram.jpg)