Minggu, 19 April 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Warga Desa Ketangga Sambut Ramadan dengan Cara Sederhana Tapi Penuh Makna

Tradisi Roah atau selamatan menyambut Ramadhan tetap dilaksanakan di Desa Ketangga namun dengan lebih efisien.

Penulis: Rozi Anwar | Editor: Wahyu Widiyantoro
TRIBUNLOMBOK.COM/Rozi Anwar
SELAMATAN RAMADAN - Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam tradisi roah atau selamatan menjelang bulan suci Ramadan 1447 H, Jumat (13/2/2026). Tradisi Roah atau selamatan menyambut Ramadhan tetap dilaksanakan di Desa Ketangga namun dengan lebih efisien. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi Roah atau selamatan menyambut Ramadhan tetap dilaksanakan di Desa Ketangga namun dengan lebih efisien.
  • Warga menyadari biasanya harga kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran yang cenderung naik saat bulan puasa.

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Rozi Anwar 

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Desa Ketangga, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjelang bulan suci Ramadan 1447 H.

Warga Desa Ketangga ini justru memilih jalan yang lebih bijak untuk menyambut bulan suci dengan aksi gotong-royong membawa dulang dan dibawa ke masjid Pusaka.

Tradisi Roah atau selamatan menyambut Ramadhan tetap dilaksanakan, namun dengan lebih efisien. 

Biasanya warga mengeluarkan biaya besar untuk konsumsi yang dilakukan dan berzikir di rumah masing-masing.

Biaya yang dikeluarkan sekira Rp1 juta per orang. 

Namun di tahun 2026, warga sepakat untuk kembali ke sistem "Saling Tulung" (saling membantu).

Baca juga: Tradisi Roah 1001 Tebolaq Beaq, Cara Warga Desa Gelanggang Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Setiap keluarga membawa satu dulang dengan biaya Rp 200 ribu dan dikumpulkan di masjid dan makan bersama.

"Kami tidak ingin keberkahan Ramadhan terbebani oleh utang atau biaya hidup yang melonjak. Dengan membawa satu dulang biaya bisa ditekan hingga 20 persen," kata Muhium, tokoh perempuan desa setempat, pada Jumat (13/2/2026).

warga Desa Ketangga perlu beririt karena masih ada persiapan kebutuhan di bulan Ramadhan. 

Warga menyadari biasanya harga kebutuhan pokok seperti cabai dan sayuran yang cenderung naik saat bulan puasa.

"Kita malah irit ini, ya jadinya kita bisa memakai untuk awal puasa nanti biaya kita," ungkap Muhium.

Tokoh agama Ustaz Adi mengimbau warga agar fokus pada peningkatan kualitas ibadah daripada renovasi fisik atau pembelian pakaian baru yang berlebihan dan makanan secara berlebihan.

"Ramadhan tahun ini kita maknai dengan kesederhanaan. Dengan meminimalisir pengeluaran yang tidak perlu, warga bisa lebih tenang beribadah dan memiliki tabungan lebih untuk kebutuhan Puasa dan Idul Fitri nantinya," tuturnya.

Inisiatif warga Desa Ketangga ini menjadi potret nyata bergotong-royong dapat mengatasi tantangan ekonomi pada hari besar keagamaan.

"Semangat gotong royong yang dilakukan masyarakat untuk membuktikan bahwa Ramadhan yang berkah tidak harus mahal," pungkasnya.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved