Sabtu, 6 Juni 2026
NTB Makmur Mendunia
NTB Makmur Mendunia

Lebaran 2026

Apakah Boleh Tidak Puasa saat Perjalanan Mudik Lebaran?

Bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya pada hari lain di luar bulan Ramadan

Tayang:
TRIBUNLOMBOK.COM
MUDIK LEBARAN - Suasana di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur menjelang Lebaran pada H-3 masih terlihat sepi, Kamis (27/3/2025) pagi. Bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya pada hari lain di luar bulan Ramadan. 

TRIBUNLOMBOK.COM - Saat ini masyarakat sedang dalam perjalanan mudik Lebaran 2026

Lalu apakah ketika dalam perjalanan mudik kita dapat membatalkan puasa? 

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Kementerian Agama, Arsad Hidayat mengatakan seorang yang melakukan perjalanan jauh atau safar, termasuk saat mudik, diperbolehkan tidak menjalankan ibadah puasa. 

Arsad menjelaskan, kebolehan berbuka bagi musafir memiliki dasar dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam Surah Al-Baqarah ayat 185. 

Ayat tersebut menyebutkan bahwa orang yang sakit atau sedang dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya pada hari lain di luar bulan Ramadan.

Meski demikian, ia menilai tetap berpuasa saat safar memiliki keutamaan apabila kondisi fisik masih memungkinkan. 

Baca juga: Awal Puasa Ramadan 2026 Boleh Beda Tetapi Persatuan dan Kerukunan Tetap yang Utama

"Apabila seseorang masih mampu berpuasa saat mudik, maka itu lebih baik dan memiliki keutamaan tersendiri,” kata Arsad.

Ia menambahkan, hal tersebut juga didukung sejumlah riwayat hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah Saw. pernah tetap berpuasa dalam perjalanan. 

Dalam riwayat Abu Darda disebutkan bahwa dalam perjalanan yang sangat panas, tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah Saw. dan Abdullah bin Rawahah. Hadis tersebut diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Menurut Arsad, pilihan untuk tetap berpuasa atau tidak saat safar kembali pada kondisi masing-masing individu. 

“Bagi yang sedang safar lalu tetap berpuasa, itu menjadi keutamaan tersendiri selama tidak menimbulkan kesulitan yang berat,” ujarnya.

Arsad mengingatkan pentingnya menghormati orang lain yang tetap menjalankan puasa. 

“Sebisa mungkin tidak makan dan minum secara terbuka di hadapan orang yang sedang berpuasa. Itu bagian dari adab dan etika yang perlu dijaga,” ujar Arsad.

(*)

Sumber: Tribun Lombok
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved