Ramadhan 2026
4 Persiapan Menyambut Ramadhan agar Ibadah Maksimal dan Produktif
Ramadhan perlu disambut dengan sikap husnuzan, yaitu berbaik sangka kepada Allah Swt. dan hikmah puasa, agar ibadah dijalani dengan tenang dan ikhlas.
Ringkasan Berita:
- Ramadhan perlu disambut dengan sikap husnuzan, yaitu berbaik sangka kepada Allah Swt. dan hikmah puasa, agar ibadah dijalani dengan tenang dan ikhlas.
- Puasa mengandung banyak kebaikan bagi jasmani dan rohani, melatih pengendalian diri, serta membentuk ketakwaan sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an.
Oleh: Suswandi
TRIBUNLOMBOK.COM - Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, umat Islam diajak untuk mempersiapkan diri secara lahiriah maupun batiniah.
Salah satu sikap yang perlu ditumbuhkan dalam diri adalah sikap husnuzan atau berbaik sangka, baik kepada Sang Pencipta (Allah Swt.) maupun kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.
Dengan memiliki sikap berbaik sangka, seseorang akan menjadi lebih tenang hatinya, tidak mudah marah, tidak dipenuhi rasa curiga, serta mampu menjalin hubungan sosial yang baik dengan sesama. Selain itu, proses ibadah selama bulan Ramadhan pun dapat dijalankan dengan penuh keikhlasan, ketenangan, dan kebahagiaan.
Namun, dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai adanya sikap prasangka buruk (suuzan) terhadap datangnya bulan suci Ramadhan, bahkan dari sebagian kaum Muslimin sendiri.
Dalam hatinya, ada yang sering mengeluh. Misalnya, menganggap Ramadhan akan menyebabkan kesehatan atau daya tahan tubuh menurun, menurunkan semangat kerja karena merasa lebih ingin beristirahat, atau beranggapan bahwa Ramadhan membuat harga kebutuhan rumah tangga naik drastis sehingga memberatkan keuangan, terutama menjelang Idulfitri.
Di sisi lain, bagi pedagang warung makan yang biasa berjualan pada siang hari, kehadiran bulan Ramadhan terkadang dianggap mengurangi jam operasional, sehingga berdampak pada penghasilan mereka.
Makna Puasa dan Kebaikannya bagi Kehidupan
Perlu diyakini bahwa dalam ibadah puasa terdapat banyak kebaikan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Hal ini karena puasa merupakan ibadah yang telah teruji dan terbukti membawa kebaikan bagi umat-umat terdahulu, kemudian dilanjutkan kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw.
Dengan kata lain, sesuatu yang telah Allah tetapkan dan diwajibkan kepada suatu umat, lalu diperintahkan pula kepada umat setelahnya, pasti mengandung hikmah dan manfaat yang besar.
Ibadah puasa terbukti mampu membentuk kondisi jasmani dan rohani yang kuat, yang dalam istilah Al-Qur’an disebut sebagai takwa, sebagaimana firman Allah Swt.:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Selama bulan Ramadhan, Allah mewajibkan umat Islam untuk berpuasa dengan tujuan melatih pengendalian diri dan hawa nafsu. Setiap Muslim yang tidak memiliki uzur syar’i tetap diwajibkan berpuasa, meskipun memiliki makanan, minuman, serta pasangan suami atau istri. Semua itu dilarang dinikmati hingga waktu yang telah ditentukan.
Apabila puasa dinilai dengan sikap buruk sangka dan tanpa mengambil hikmah yang terkandung di dalamnya, seseorang bisa saja beranggapan bahwa puasa hanya mengubah jam makan dan minum yang menyebabkan tubuh melemah pada siang hari, sehingga dianggap berdampak pada menurunnya produktivitas dan kesehatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/jamaah-laki-buka-puasa-islamic-center.jpg)