NTB

DPRD NTB Heran Harga Bahan Pokok Kerap Naik di Bulan Ramadan, Singgung Ulah Spekulan

Tribunnews/Jeprima
HARGA BAHAN POKOK - Penjual merapikan dagangannya di Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (18/01/2025). Anggota Komisi II DPRD NTB Lalu Arif Rahman Hakim menilai faktor pemicu kenaikan harga bahan pokok tidaklah semata karena tingginya permintaan. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Andi Hujaidin

TRIBUNLOMBOK.COM, KOTA BIMA - Harga bahan pokok kerap naik di awal Ramadan. 

Anggota Komisi II DPRD NTB Lalu Arif Rahman Hakim menyebut bahwa fenomena kenaikan harga ini harus menjadi perhatian utama pemerintah.

Seperti sebuah siklus yang tak pernah terhindarkan, harga-harga kebutuhan dasar seperti beras, minyak goreng, daging, telur, cabai, hingga bawang kembali meroket," katanya kepada TribunLombok, Senin (3/3/2025).

Politisi partai NasDem ini pun tak habis pikir tren kenaikan harga bahan pokok di bulan Ramadan tidak diantisipasi pemerintah.

Baca juga: Harga Cabai Meroket, Wabup Lombok Tengah HM Nursiah Sidak ke Pasar Renteng Praya 

"Apakah fenomena ini hanya sekadar tradisi  yang datang setiap tahun, atau ada faktor-faktor lain yang menyebabkan harga-harga tersebut melonjak begitu tajam?", tanyanya.

Dia mengungkap soal teori ekonomi menjelaskan bahwa semakin tinggi permintaan, semakin tinggi pula harga barang. 

"Selama Ramadan, konsumsi masyarakat memang meningkat tajam baik untuk persiapan sahur, buka puasa, maupun kebutuhan lain menjelang Lebaran. Namun, apakah hanya peningkatan permintaan yang menjadi pemicu utama kenaikan harga? Tentu tidak," jelasnya.

Ia menilai bahwa faktor pemicu kenaikan harga bahan pokok tidaklah semata karena tingginya permintaan. 

Namun, ada faktor lain yang menyebabkan kebutuhan pokok masyarakat menjadi mahal.

Anggota Komisi II DPRD NTB Lalu Arif Rahman Hakim
Anggota Komisi II DPRD NTB Lalu Arif Rahman Hakim.

"Fakta di lapangan menunjukkan bahwa selain faktor permintaan, spekulasi harga oleh pedagang besar dan panjangnya rantai distribusi bahan pokok turut berperan besar," ujarnya.

Menurutnya, stok yang tiba-tiba langka di pasaran seringkali dimanfaatkan distributor untuk menaikkan harga dengan dalih pasokan yang terbatas. 

Ini memicu keresahan di kalangan konsumen yang harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli barang-barang pokok.

"Untuk menjawab lonjakan harga yang kerap terjadi,  pemerintah biasanya melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga. Meskipun langkah ini terkadang memberikan hasil sementara, efektivitasnya masih sering dipertanyakan. 

"Apakah operasi pasar ini benar-benar mampu menekan harga secara permanen, ataukah hanya solusi yang tidak menyentuh akar masalah?", tanyanya.

Ia menilai penting untuk dicatat bahwa pengawasan distribusi bahan pokok harus lebih diperketat. 

Penegakan hukum terhadap spekulan yang menimbun barang dan mendistorsi harga juga harus lebih tegas.

"Selain itu, penguatan sistem distribusi yang langsung menghubungkan petani atau produsen dengan pasar bisa menjadi solusi yang lebih efektif dan berkelanjutan sehingga harga bisa lebih terkendali, dan masyarakat pun tak lagi merasa terbebani," tandasnya.

(*)