NTB

Ada Pergeseran Musim Tanam Padi di Lombok Timur, Dinas Pertanian Jelaskan Penyebabnya

Ahmad Wawan Sugandika/TribunLombok.com
Tanaman padi di wilayah Kopang Lombok Tengah - Dinas Pertanian jelaskan penyebabnya musim tanam padi di Lombok Timur bergeser. 

Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika

TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TIMUR - Dampak dari cuaca El Nino hingga saat ini masih dirasakan oleh sebagian masyarakat di Kabupaten Lombok Timur.

Bahkan, memasuki pekan ke dua di bulan Januari 2024 ini, sebagian wilayah di Lombok Timur tak kunjung turun hujan.

Kondisi ini menyebabkan penanaman padi juga tidak merata dan memaksa para petani menggeser waktu tanam.

Musim tanam biasanya serempak dimulai di awal Desember dan pada awal Januari seluruh padi sudah tertanam.

Baca juga: Pemda Lombok Timur Tanam Padi di Lahan Seluas 4 Ribu Hektare untuk Atasi Dampak El Nino

Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, Sahri mengatakan, luas areal tanam tanaman padi di Lombok Timur saat ini seluas 41 ribu hektar.

Dari luas areal itu, dikarenakan dampak El Nino, luas tanam baru mencapai 30-40 persen. Jumlah ini jauh dari tahun-tahun sebelumnya, dipertengahan Januari luas tanam sudah mencapai 70-80 persen.

"Memang dampak El Nino ini cukup berpengaruh, menyebabkan hujan yang turun tidak merata. Kondisi ini juga menyebabkan petani belum merata tanam, ada yang sudah dan ada yang belum," ucap Sahri setelah dikonfirmasi TribunLombok.com, Senin (15/1/2024).

Dijelaskannya, meskipun saat ini hujan yang turun belum merata, dia berkeyakinan petani di Lombok Timur tidak akan sampai mengalami gagal tanam.

Dinas Pertanian sudah jauh hari telah mensosialisasikan agar petani sebelum mulai menanam melihat perkembangan cuaca terlebih dahulu.

"Mulai bulan Januari dan Februari ini hujan diprediksi akan normal. Sehingga musim tanam diyakini bisa dimulai ketika kondisi ketersediaan air terpenuhi," katanya.

Diakuinya pula, saat ini imbas dari hujan yang tak kunjung menyebabkan petani yang sudah terlanjur menanam dan menyemaikan bibit harus melihat tanaman dan bibitnya mengering karena tidak ada air.

Petani juga mengandalkan air tadah hujan seperti di Sakra Timur, Keruak dan Jerowaru.

Baca juga: Panen Raya Padi di Lombok Timur Jadi Pertanda Stok Beras Terjaga

Sahri menambahkan, pihaknya tidak bisa juga langsung memaksa mengeluarkan stok air di Bendungan Pandanduri sebagaimana yang diminta petani.

"Kita tidak bisa mengeluarkan air di bendungan Pandandure secara sembarangan, tetapi harus diatur, karena hal tersebut tak bisa dikeluarkan secara berlebihan," katanya.

Sahri melanjutkan, dengan adanya pergeseran musim tanam, dipastikan waktu panen raya juga akan mundur. Meskipun begitu, masyarakat diimbau untuk tidak khawatir, dipastikan stok beras sampai panen raya berikutnya masih aman.

Mengantisipasi kekurangan, dalam waktu dekat hasil dari Gerakan Nasional (Gernas) seluas 3.000 ha dan Gerakan tanam (Gertan) 1.000 ha akan panen sebelum panen raya.

"Kalau beras tak keluar Lotim, maka dari hasil panen program Gernas dan Gertan maka sudah bisa tercukupi," demikian Sahri.

(*)