Cerpen
Harapan Ibu yang Dititipkan
Aku selalu ingat pesannya, uang bisa dicari kapan saja, tetapi usia muda untuk belajar tidak akan pernah kembali.
Oleh: Hadijah Uma
Pagi hari, aku terbangun oleh pancaran mentari yang menembus jendela kamarku.
Lalu aku buka jendela kayu yang sudah lapuk dimakan rayap itu.
Mataku yang baru terbuka berusaha melihat sekeliling rumah. Hamparan sawah nan hijau membentang luas.
Udara pagi itu terasa menusuk kulit. Embun sesekali menetes dari dedaunan. Di kejauhan terlihat kabut masih menyelimuti tanaman padi.
Pikiranku mulai tersadar. Pagi sudah datang. Aku harus kembali memulai aktivitas hari itu.
Kakiku bergegas keluar menuju halaman. Ku ambil sapu lalu membersihkan daun-daun yang berserakan.
Setelah itu aku menyambung selang ke lubang keran air untuk menyiram bunga bunga di halaman rumahku.
Beberapa saat kemudian, aku mendengar lagi panggilan perempuan paruh baya menyuruhku sarapan.
Panggilan itu terdengar setiap hari, kadang terasa bosan, terasa hambar karena terlalu sering ku dengar.
Langkah kakiku terasa berat untuk mengikuti perintahnya. Malas. Tubuhku ingin kembali istirahat saja.
Tapi perempuan itu tidak menyerah.
Suara panggilannya semakin lantang. Kini terdengar setengah memaksa.
Dia tetap menyuruhku sarapan sembari menggerutu dengan sikapku.
Aku sadar dia tidak marah, dia hanya berusaha menunjukkan perhatiannya padaku. Tapi hari itu aku tak ingin terlalu diperhatikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Ilustrasi-Ibu.jpg)