Opini
Sengkuni dan Drama Keluarga Jokowi
Bagi siapapun yang belajar sejarah Indonesia, khususnya masa Orde Baru, tentu tak ingin hukum diobok-obok demi kekuasaan dan kepentingan pribadi.
Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Majalah Tempo edisi 20—26 2023 mengeluarkan hasil liputan yang mengejutkan terkait Pemilu 2024 khususnya menyangkut pencalonan Gibran Rakabuming sebagai calon Wakil Presiden mendampingi Calon Presiden, Prabowo Subianto.
Tidak main-main, hasil penelusuran majalah yang telah berdiri sejak 1971 ini menyebutkan bahwa Iriana Jokowi yakni istri Presiden Joko Widodo dan ibunda Gibran sebetulnya telah lama menyusun rencana agar putranya tersebut dapat maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2024 nanti.
Tempo memberi judul sampul majalahnya, “TENANG, IBU SUDAH DI SINI”, serta gambar karikatur ‘nakal’ ala Tempo yang bisa kita tafsirkan: Ibu Iriana sedang membonceng Gibran dengan motor, sementara Jokowi nampak panik mengebut motornya mengejar mereka dari belakang.
Lucunya, motor Ibu Iriana nampak akan belok ke kiri, namun sein motor yang menyala adalah yang sebelah kanan.
Jelas Tempo memberikan fakta baru dan segar ke hadapan kita, sesuatu yang nyaris tak terpikir bagi banyak orang: ibu negara diam-diam punya siasat nyaris tak terlacak agar anaknya yang masih muda itu dapat maju dalam kontestasi politik 2024 nanti.
Tempo menyebutkan bahwa faktor sakit hati ibu Iriana yang melihat suaminya dipermalukan oleh ketua partai Megawati menjadi salah satu pemantik dan rencananya untuk ikut campur dalam soal politik capres-cawapres.
Maka dengan itu menjadi kian lengkaplah kisah drama keluarga Jokowi setelah kita dipertontonkan tayangan yang menghina rasa keadilan: Anwar Usman—yang berstatus duda saat menikahi adik Sang Presiden yaitu Idayati yang berstatus janda—tiba-tiba saja dalam waktu sangat singkat memutus permohonan seorang Mahasiswa Universitas Surakarta, Almas Tsaqibbiru dalam perkara no 90/PUU-XXI/2023 terkait batas usia capres dan cawapres.
Di luar respons yang diajukan elit politik yang bisa jadi bias—khususnya para elit di kubu pendukung Prabowo-Gibran, rakyat kebanyakan yang punya perhatian pada soal hukum akan menganggap ini sebagai sesuatu yang serius, sesuatu yang akan bisa menjadi jejak buruk untuk Indonesia ke depan.
Indonesia maju atau mundur dapat kita terawang dengan peristiwa yang mencoreng keadilan itu.
Sengkuni dan pemilu 2024
Sengkuni adalah sosok antagonis dan sangat licik dalam Kisah Epos Mahabharata dari India (400 SM) yang turut diadaptasi ke dalam kisah pewayangan.
Kisah Mahabharata yang terdiri dari 18 bagian itu sendiri berpusat pada konflik keluarga Pandawa dan Kurawa dalam memperbutkan takhta Hastinapura.
Jalinan kisah keluarga, percintaan, berjalin kelindan dengan persoalan politik kekuasaan.
Jika melihat kembali sejarah drama keluarga Jokowi jalinannya dengan persoalan politik Indonesia saat ini, sedikit banyak kita akan melihat pantulannya lewat cermin kisah Mahabharata.
Wabilkhusus lagi kaitannya dengan tokoh Sengkuni yang fenomenal tersebut.
Ramai diyakini banyak orang, Jokowi hendak berkuasa lagi. Namun rupanya konstitusi tidak menghendaki itu terjadi.
Kekisruhan soal apakah benar Jokowi melobi partai untuk bisa melenggang melanjutkan kekuasaan untuk ketiga kalinya lalu mengemuka.
Di luar benar apa tidak, masih dapat diterima akal kiranya jika seseorang masih ingin berkuasa. Asalkan melalui proses yang benar sejalan dengan prinsip demokrasi.
Hanya saja, masalahnya kemudian melahirkan spekulasi-spekulasi negatif yang mengarah ke Jokowi.
Ketua MK di tengah-tengah kisruh politik tiba-tiba mengesahkan perkara terkait usia capres dan cawapres.
Orang-orang segera menarik asumsi saat menghubungkan pribadi Ketua MK, Anwar Usman, yang notabene adalah adik iparnya Jokowi.
Lalu perkara yang diputuskan juga menyangkut Gibran yang hendak ikut kontestasi menjadi cawapres Prabowo, sayangnya terkendala umur.
Klop sudah: Jokowi tak bisa berkuasa lagi; Gibran didorong melanjutkan kekuasaan Jokowi namun terkendala aturan usia yang belum cukup; MK mengubah aturan usia capres dan cawapres; Gibran akhirnya dapat melenggang menjadi cawapres. Mulus namun ‘cerdas’, atau ‘licik’ seperti Sengkuni?
Ya, seperti Sengkuni yang berusaha tanpa henti menghasut para ponakannya yakni 100 Kurawa untuk memerangi para Pandawa demi kekuasaan.
Hanya memang, kita tak mudah mencari siapa Sengkuni dalam peristiwa drama keluarga Jokowi. Yang bisa kita deteksi adalah sifat jahat dan licik Sengkuni di dalam sosok-sosok yang mengatur sehingga strategi yang merusak citra demokrasi dan hukum kita itu terjadi.
Bagi siapapun yang belajar sejarah Indonesia, khususnya masa Orde Baru, tentu tak ingin melihat hukum diobok-obok demi kekuasaan dan kepentingan sendiri.
Aturan-aturan diutak-atik demi langgengnya kekuasaan dinasti mereka sendiri. Rakyat dikebiri, dicuci otaknya selama 32 tahun.
Begitu pula Sengkuni mencuci otak para ponakannya dengan berusaha agar mereka terus-menerus memusuhi para Pandawa seakan-akan mereka sudah dari zahirnya adalah musuh.
Semua dilakukan Sengkuni agar kekuasaan tetap berada di pihaknya, atau pihak keluarganya sendiri.
Kekuasaan Sengkuni yang seperti itu mestilah diperangi.
Memang Sengkuni hidupnya berakhir di padang Kurusetra dalam perang besar Baratayuda.
Tapi sifat jahat dan liciknya rupanya kembali mengalir dalam darah elit-elit politik kita saat ini.
Apakah momen Pemilu 2024 ini akan jadi Perang Baratayuda bagi perjuangan demokrasi dan hukum kita?
Kitalah yang menentukan, rakyat semua!
Jangan biarkan Sengkuni-Sengkuni menguasai lapangan demokrasi kita.
Apalagi membiarkan mereka berjoged ria di tengah kehancuran hukum dan demokrasi, segemoy dan segeboy apapun goyangan mereka.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Dedy-Ahmad-Hermansyah.jpg)