Berita Bima
Sempat Meroket, Kini Harga Garam di Bima Kembali Anjlok
Setelah memasuki musim panen, saat ini harga jual pada tingkat petani merosot tajam hingga mencapai Rp100 per karung
Penulis: Atina | Editor: Wahyu Widiyantoro
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Atina
TRIBUNLOMBOK.COM, BIMA - Harga garam di Kabupaten Bima kini kembali anjlok, setelah sebelumnya sempat membuat petani sumringah karena harganya yang tinggi.
Sebelumnya, harga garam pada tingkat petani mencapai Rp500 ribu hingga mencapai Rp600 ribu per karung.
Setelah memasuki musim panen, saat ini harga jual pada tingkat petani merosot tajam hingga mencapai Rp100 per karung.
Itu pun harga garam dengan kwalitas tinggi yakni berwarna putih bersih.
Baca juga: Harga Garam Tembus Rp1 Juta Per Kuintal, Petani di Lombok Tengah Untung Besar
"Harganya sudah turun jauh sekarang. Cuma 100 ribu per karung," ujar Maman Abdullah, petani garam di Desa Talabiu Kecamatan Woha.
Meski turun drastis, ia mengaku harga Rp100 ribu per karung tersebut masih terbilang lumayan dan menguntungkan petani.
Hanya saja lanjut dia, para tengkulak sudah jarang yang membeli karena lebih mencari jenis garam berkwalitas super.
"Tetapi kita tidak kehilangan minat untuk tetap memproduksi. Garam yang diproduksi kita simpan dalam gudang sebagai stok menunggu pembeli maupun harga meningkat lagi," tuturnya.
Untuk saat ini, produksi garam petani belum begitu meningkat karena faktor cuaca yang tidak menentu.
Baca juga: Harga Garam di Bima Tembus Rp480.000 Per Karung
"Kadang panas, kadang juga dingin. Sekali-sekali turun hujan, yang menyebabkan produksi garam belum bisa maksimal," imbuh Amiruddin, petani garam lainnya.
Hingga saat ini petani masih memproduksi, tapi enggan menjual dan memilih menyimpan di gudang.
"Saat harganya sampai 600 ribu per karung, petani pada kaya mendadak. Ada petani yang terima uang lebih 1 miliar dari harga garam saja," pungkasnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/tambak-garam-bima-31072023.jpg)