NTB

Gema Alam NTB Miliki Strategi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Melalui Tenun

TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA
Model profesional tampil pada sesi fashion show Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023). Sesi ini merupakan kolaborasi Gema Alam NTB dengan Dekranasda NTB dan IFC. 

TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Gerakan Masyarakat Cinta Alam atau Gema Alam Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui tenun.

Lembaga nirlaba dan independen yang dipimpin perempuan bernama Haiziah Gazali ini konsisten dan fokus pada pengelolaan lingkungan hidup, peningkatan kesejahteraan masyarakat, memacu pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka kemiskinan tanpa mengorbankan keselamatan lingkungan.

Baca juga: Gema Alam NTB Bekerjasama Dekranasda Gelar Lombok Tenun Expo, Ada Pameran dan Fashion Show

Gema Alam NTB bekerjasama dengan Yayasan Pikul NTT atas dukungan Ford Foundation, Pemerintah Provinsi NTB, Dekranasda NTB, Dinas Perdagangan Provinsi NTB serta desainer profesional dari Indonesian Fashion Chamber (IFC) menyelenggarakan bazar dan pameran bertajuk Lombok Tenun Expo.

Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah membuka Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023).
Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah membuka Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023). (TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA)

Lombok Tenun Expo berlangsung apik dan meriah di Ballroom Rinjani Lombok Raya Hotel, Jl. Panca Usaha No. 11, Cilinaya,Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023) pagi hingga siang.

Acara tersebut dibuka Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.

Lombok Tenun Expo yang digelar Gema Alam NTB terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu pameran tenun dan bazar, fashion show, dan talkshow.

"Kami memiliki strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui tenun. Tenun merupakan warisan budaya yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Lombok terutama kaum ibu," kata Ketua Gema Alam NTB, Haiziah Gazali saat sesi talkshow Lombok Tenun Expo.

Model profesional tampil pada sesi fashion show Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023). Sesi ini merupakan  kolaborasi Gema Alam NTB dengan Dekranasda  NTB dan IFC.
Model profesional tampil pada sesi fashion show Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023). Sesi ini merupakan kolaborasi Gema Alam NTB dengan Dekranasda NTB dan IFC. (TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA)

Tiga pembicara lain dalam talkshow adalah Direktur Yayasan Pikul NTT, Torry Kuswardono, Yuniar Pratiwi dari Geopark Rinjani, dan tokoh adat Sembalun, Mertawi.

Haiziah menjelaskan, Lombok Tenun Expo menjadi wadah memperkenalkan inisiatif perempuan dalam mengakses dan mengontrol rantai nilai produk tenun terutama yang pewarna alam sekaligus wadah promosi dan pemasaran bagi produk tenun dan turunannya.

"Tujuan Lombok Tenun Expo menjadi upaya dalam membangun ekosistem bisnis bagi perempuan yang akan berdampak pada menguatnya jiwa kepemimpinan perempuan, membantu meningkatkan kesejahteraan perempuan dan upaya mitigasi dampak perubahan iklim,” kata Ziko, sapaan akrab Haiziah Gazali.

Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah pose bersama konsorsium Gema Alam NTB dan para desainer   di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023).
Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah pose bersama konsorsium Gema Alam NTB dan para desainer di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023). (TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA)

Lombok Tenun Expo yang mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak,kata Zico, juga menjadi ruang menyebarluaskan konsep dan pengalaman pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan Sumber Daya Alam berkelanjutan yang kompatibel dengan iklim di Nusa Tenggara Barat.

Dia mengatakan, sejak bulan November 2021 hingga Mei 2023, Gema Alam NTB tak henti berikhtiar memberdayakan perempuan pedesaan.

Wujudnya berupa revitalisasi dan meningkatkan keterampilan serta pengetahuan tentang pengelolaan ekosistem lokal yang berhubungan kuat dengan kesejahteraan dan mata pencaharian mereka.

Salah satunya melalui inovasi produk tenun di tiga lokasi yakni Desa Sembalun Lawang di Kabupaten Lombok Timur, desa Sukarara, Kabupaten Lombok Tengah, dan desa Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Kelompok Tenun Rinjani Sembalun Lawang, Lumbung Sensek Sukarara dan Tenun Bayan Tangguh membudidayakan beragam tumbuhan untuk memastikan ketersediaan serat dan bahan pewarna alam. Bahkan ada yang membuat pasta pewarna alam, beberapa sudah mulai memintal benang sendiri.

Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah meninjau pameran Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023).
Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah meninjau pameran Lombok Tenun Expo di Ballrom Rinjani Lombok Raya Hotel, Kota Mataram, Sabtu (27/5/2023). (TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA)

Selain kain tenun pewarna alam, ketiga kelompok juga membuat produk turunan seperti baju, celana, outer, tote bag, bucket hat, dompet, dan lainnya.

Bagian dari upaya konservasi

Direktur Yayasan Pikul Nusa Tenggara Timur (NTT), Torry Kuswardono mengatakan, tenun dengan bahan pewarna alam adalah bagian dari upaya konservasi spesies-spesies alami yang bermanfaat langsung bagi perempuan, para pewaris budaya tenun.

Narasumber talkshow Lombok Tenuh Expo, Ketua Gema Alam NTB, Haiziah Gazali (keempat dari kiri), Direktur Yayasan Pikul NTT, Torry Kuswardono (ketiga dari kiri), Yuniar Pratiwi (kedua dari kiri), dan tokoh adat Sembalun, Mertawi (kanan).
Narasumber talkshow Lombok Tenuh Expo, Ketua Gema Alam NTB, Haiziah Gazali (keempat dari kiri), Direktur Yayasan Pikul NTT, Torry Kuswardono (ketiga dari kiri), Yuniar Pratiwi (kedua dari kiri), dan tokoh adat Sembalun, Mertawi (kanan). (TRIBUNLOMBOK.COM)

"Pelestarian tenun alam yang ditopang oleh konservasi sumber daya alami oleh perempuan, menunjukkan perempuan adalah garda depan dari pengembangan ketahanan sosial ekologis dalam iklim yang sedang berubah. Pelestarian tenun berbahan alam adalah sebuah bukti bahwa perempuan pedesaan merupakan garda ketahanan iklim,” kata Torry Kuswardono.

Selain di NTB, pengelolaan dan pemanfaatan bahan alami menjadi kain tenun juga dilakukan oleh kolektif perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTB) khususnya di Desa Leloboko, Kabupaten Kupang.

Produk, proses, pengetahuan dan kreativitas kelompok juga turut disajikan dalam pameran Lombok Tenun Expo ini.

Team leader program Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, Muhamad Juaini memberi pengantar pada acara Lombok Tenun Expo di Mataram, Sabtu (27/5/2023).
Team leader program Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, Muhamad Juaini memberi pengantar pada acara Lombok Tenun Expo di Mataram, Sabtu (27/5/2023). (TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA)

“Tujuan event Lombok Tenun Expo adalah menyebarluaskan konsep dan pengalaman pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam yang kompatibel dengan iklim NTB,” kata team leader program Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, Muhamad Juaini saat memberi pengantar pada acara tersebut.

Seperti disaksikan TribunLombok.com, Lombok Tenun Expo dibuka Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah.

Niken yang menjadi keynote speaker memberikan apresiasi yang tinggi atas apa yang dilakukan Gema Alam NTB bersama konsorsiumnya lewat program pemberdayaan perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam yang kompatibel dengan iklim NTB sejak tahun 2021.

"Ini baru permulaan. Kalau bisa Lombok Tenun Expo diselenggarakan setiap tahun. Bisa juga diperluas sampai ke Pulau Sumbawa," kata Niken Saptarini.

Setelah Niken menyampaikan pokok pikiran dan pandangannya, Lombok Tenun Expo menyajikan sesi kedua yang sangat luar biasa yaitu fashion show.

Hasil karya dari kelompok tenun di tiga Desa di NTB ditampilkan, dipromosikan dan dijual pada sesi fashion show tersebut.

Sesi ini merupakan hasil kolaborasi Gema Alam NTB dengan dengan Dekranasda NTB dan IFC yang melibatkan desainer dan model profesional. Penampilan model profesional mengundang decak kagum dan aplaus para tamu dan undangan.

Pad sesi bazar dan pameran tenun alam lokal, kelompok menyajikan hasil karya mereka berupa produk dari bahan serat dan pewarna alam.

Direktur Yayasan Pikul NTT, Torry Kuswardono menyampaikan sambutan dalam acara Lombok Tenun Expo di Mataram, Sabtu (27/5/2023).
Direktur Yayasan Pikul NTT, Torry Kuswardono menyampaikan sambutan dalam acara Lombok Tenun Expo di Mataram, Sabtu (27/5/2023). (TRIBUNLOMBOK.COM/DION DB PUTRA)

Pasta pewarna alam, alat pemintal serat benang dari pewarna alam
serta berbagai produk turunan berbahan dasar pewarna alam seperti bucket hat, baju, celana, outer, dompet, tote bag, dan lain-lain.

Bazar dan pameran tidak hanya diikutin peserta dari NTB. Hadir pula gerakan perempuan pejuang alam (GP2A) Desa Leloboko, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Mereka juga menyajikan tenun dari pewarna alami, kapas, alat pintal benang lokal dan hasil gulungan yang dibuat dari pewarna alami. (*)