NTB
Masjid Cina di Lombok Barat, Simbol Multikultural dan Toleransi Umat Beragama
Penulis: Lalu M Gitan Prahana | Editor: Robbyan Abel Ramdhon
Laporan Lalu M Gitan Prahana
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK BARAT - Masjid Muhamad Ridwan terletak di Desa Pakuan, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat.
Masjid yang dibangun pada tahun 2010 silam ini, menjadi salah satu rumah ibadah yang memiliki desain arsitektur yang unik, dengan memadukan unsur kebudayaan Tionghoa.
Sehingga bangunan masjid ini menjadi salah satu simbol multikultural toleransi umat bergama di Gumi Patuh Patut Patju.
Bahkan, jika dilihat sekilas, masjid ini mirip dengan kelenteng.
Baca juga: Profil Masjid Tertua di Bima, Jejak Islam dan Berubahnya Sistem Kerajaan Menjadi Kesultanan
Masyarakat setempat, bahkan lebih akrab menyebutnya dengan Masjid Cina, karena bangunannya begitu mirip seperti kelenteng, dengan atap berbentuk limas persegi 8 dengan 3 tingkatan yang semakin mengerucut ke atas.
Sedangkan warna masjid, didominasi oleh cat merah dan putih, dan di depan pintu masuk masjid terdapat ukiran huruf Cina dan Arab.
Seperti layaknya masjid pada umumnya, di dalam Masjid M Ridwan, terdapat gelaran sajadah, Al-Quran, dan alat pengeras suara.
Sadli (50) sebagai marbot masjid M Ridwan menceritakan bahwa masjid tersebut dibangun pada tahun 2010 oleh mualaf asal China yang tinggal di Mataram bernama Haji Muhammad Maliki alias Antiyankok.
Baca juga: Bule Prancis Ngamuk di Masjid Protes Suara Speaker Tadarus Disanksi Deportasi
Menurut cerita, dia membangun masjid tersebut karena mendapat hidayah masuk Islam dan ingin membangun tempat ibadah umat Islam yang nyaman untuk masyarakat.
Maka dibangunlah masjid dengan luas tanah sekitar 300 meter tersebut, yang juga dilengkapi dengan area taman bermain serta jambatan mini yang dihiasi dengan lampu lampion.
Saat ini Masjid M Ridwan bukan saja menjadi lokasi ibadah umat islam, namun juga dijadikan lokasi wisata religi dan sering dikunjungi oleh masyarakat luar.
Sadli menuturkan bahwa, bagi yang ingin berkunjung ke M Ridwan ini, hanya perlu membayar biaya parkir seikhlasnya.
"Sebenarnya tidak ada pungutan, hanya saja biaya itu nantinya akan dialokasikan untuk membayar air dan biaya kebersihan Masjid," tandas Sadli.
Bergabung dengan Grup Telegram TribunLombok.com untuk update informasi terkini: https://t.me/tribunlombok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/Masjid-M-Ridwan-di-Lombok-Barat-yang-dibangun-oleh-mualaf-keturunan-Tionghoa.jpg)