NTB
Sosok Denek Perwangse, Penyebar Agama Islam di Pulau Lombok yang Dinilai Keramat
Penulis: Lalu Helmi | Editor: Wahyu Widiyantoro
Laporan Wartawan TribunLombok.com, Lalu Helmi
TRIBUNLOMBOK.COM, MATARAM - Situs petilasan Pating Laga Denek Prawangse berada di Dusun Batu Kumbung, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.
Tim Ekspedisi Mistis PDIP NTB dan Mi6 mengunjungi ritus sejarah tersembuyi di Pulau Lombok Minggu (20/11/2022).
Penelusuran jejak ulama penyebaran agama Islam sekaligus penemu nama Batu Kumbung memiliki beberapa peninggalan yang selama ini jarang diketahui publik.
Beberapa karya yang diduga kuat warisan Pating Laga Denek Prawangsa peninggalan adalah lain tempat beliau bermunajat ataupun berkhalwat yang berupa batu menhir, pancuran air, kumpulan tulisan beliau dalam bentuk tulisan arab di atas kulit onta yang berusia ratusan tahun.
Baca juga: Ketua Umum NWDI TGB Zainul Majdi Ziarah ke Makam Pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan
Terdapat juga berbagai benda - benda kuno lain yang menggambarkan aktivitas Denek Prawangsa selama tinggal di Batu Kumbung.
Menurut tokoh masyarakat Batu Kumbung, Haji Mundri alis Haji Ahim (83) mengatakan Pating Laga Denek Prawangsa memiliki nama islamnya Sayed Abdullah Zen Alhamdy.
Sosok yang amat dikagumi masyarakat Batu Kumbung ini diketahui berasal dari Timur Tengah, tepatnya di negeri Yaman.
Kedatangan Denek Keramat (panggilan lain Pating Laga Denek Prawangsa) ke Batu Kumbung jauh sebelum kedatangan Anak Agung Karang Asem melakukan Ekspansi Ke Lombok.
Awalnya, Denek Prawangsa dikabarkan sempat singgah di Gresik Jawa Timur sebelum akhirnya ke Lombok.
"Denek Kramat diyakini masyarakat batu kumbung sebagai ulama menyebarkan syiar agama islam yang pertama selaligus membuka hutan yang kemudian diberi nama Kumbung.
"Bahkan di akhir ekspedisinya di pulau lombok, Denek prawangsa kepada warganya kala itu. Jika ingin menemui, temui dipetilasan yang dibuatnya dalam bentuk situs batu menhir," ungkap Haji Ahim .
Selain itu untuk keperluan berwudhu dan mandi, dan lain-lain. Denek Prawangsa juga membuat saluran air dari mata air yang tidak diketahui asal muasalnya.
Pancuran mata air itu hingga kini tetap mengalir meskipun sudah berusia berabad-abad.
"Denek Prawangsa juga meninggalkan kumpulan kotbahnya dlm bentuk tulisan arab diatas gulungan kulit onta," ujar Haji Ahim sembari memperlihatkan beberapa bukti artefak peninggalan Denek Keramat yang ia jaga hingga kini.
Sisi Keramat Denek Prawangsa
Dalam beberapa kesempatan, Denek Perwangse sering kali berusaha menujukkan sisi keramat miliknya.
Dirinya pernah berkali-kali dibakar atau membakar dirinya.
Namun, api yang membakar dirinya tersebut seperti tak mempan.
Masyarakat terhibur dengan tingkah Denek Perwangse.
Baca juga: Wisata Lombok, Mengenal Makam Nyato, Dikunjungi Peziarah Arab Saudi hingga Mesir
Belakangan, setelah syariat islam mulai dipahami, masyarakat mulai sadar bahwa yang dilakukan Denek Perwangse tersebut merupakan salah satu sisi 'keramatnya'.
Kini, areal kawasan yang disebut menjadi tempat bertafakkur Denek Perwangse tersebut masih dirawat dan disebut memiliki nilai keramat oleh masyarakat setempat.
Tempat itu lazim digunakan sebagai lokasi roah adat pada momen-momen tertentu.
Tak hanya itu, lokasi tersebut juga ramai didatangi oleh para peziarah yang mengetahui kehebatan dan kekaromahan Denek Perwangse.
Para peziarah tersebut tak hanya berasal dari masyarakat Lombok, tetapi juga berasal dari luar daerah.
Sementara Ketua Tim Ekspedisi Mistis PDIP NTB dan Mi6, H. Ruslan Turmuzi didampingi Sekretaris Tim Ekspedisi Mistis, Ahmad Amrullah mengatakan akan melaporkan secara detail hasil penelusuran Petilasan Pating Laga Denek Prawangsa kepada Dewan Pembina Tim Ekspedisi, H Rachmat Hidayat.
Hal tersebut agar bisa ditindak-lanjuti dengan kapasitas dan legacy yang dimiliki sebagai Anggota DPR RI Dapil Lombok.
Menurut Ruslan Turmuzi, cerita rakyat (folklore) tentang kisah Denek Kramat beserta jejak petilasan yang ditinggalkan membuktikan bahwa nenek moyang suku bangsa lombok memiliki karya cipta kebudayaan yang tinggi.
Hal tersebut mengindikasikan saat itu Pulau Lombok sudah memiliki tatanan atau struktur kebudayaan yang menarik perhatian orang luar utk mendatangi dan mendiami wilayah Lombok dng berbagai motif dan kepentingan.
"Jika benar denek keramat ini berasal dari yaman, maka betapa kuatnya pesona budaya Gumi Sasak Mirah Adi dimata ulama Yaman sampai jauh-jauh melakukan ekspedisi ke Lombok utk sebarkan syiar islam," ucap Ruslan Turmuzi.
Ruslan menggarisbawahi bahwa Tim Ekspedisi Mistis sengaja memfokuskan untuk menggali dan menelusuri folklore (cerita rakyat) yang ada di dusun - dusun untuk diaktualisasikan untuk menambah kazanah keberagaman mutu manikam kebudayaan Suku Bangsa Sasak yang Terserak.
Baca juga: Keberadaan Makam Datu Jukung Kambut di Lombok Tengah Jadi Perhatian Pemuda Setempat
"Tim Ekspedisi Mistis akan membuka akses informasi terhadap semua artefak atau petilasan yang ditemukan agar stakeholder maupun publik tahu tentang sejarah suku bangsa sasak yg terserak tersebut," ujar RT , panggilan akrabnya.
Telusuri Jejak makanan Tradisional Sasak yang Punah dan Hilang
Sementara itu Sekretaris Tim Ekspedisi Mistis, Ahmad Amrullah menambahkan, pihaknya saat ini sedang mendalami dan memverifikasi informasi terkait makanan tradisional suku sasak yang terancam musnah karena adanya serbuan produk-produk makanan modern yang serba instan.
Padahal dari sisi kesehatan, makanan tradisional sasak tempo dulu lebih higienis, sehat dan bergizi karena diproses secara alami.
"Tim Ekspedisi Mistis akan mengeluarkan daftar makanan/kudapan suku sasak yg hilang maupun terancam musnah jika keberadaannya tidak dilindungi dan diproteksi," kata Amrullah.
Sementara itu Direktur Mi6, Bambang Mei Finarwanto menambahkan Pemerintah Daerah perlu turun tangan untuk melakukan revitalisasi dan pembenahan disekitar lokasi petilasan pating laga denek prawangsa agar mempermudah akses masysrakat mengunjungi.
"Penataan Kawasan diseputar petilasan Denek Kramat perlu dilakukan agar masyarakat batu kumbung mengapreasiasi karena nenek moyangnya dimanusiakan. Bila perlu jadikan cagar budaya lokasi petilasan tersebut agar ada kesinambungan perhatian oleh pemerintah," ucap Lelaki yang akrab di sapa didu.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lombok/foto/bank/originals/makam-batu-kumbung.jpg)